Image

Bill Clinton Sebut Korut Negara yang Lucu

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Kamis, 15 September 2016 - 09:21 WIB
Mantan Presiden AS Bill Clinton menyebut Korut sebagai negara yang lucu (Foto: Ethan Miller/AFP) Mantan Presiden AS Bill Clinton menyebut Korut sebagai negara yang lucu (Foto: Ethan Miller/AFP)

WASHINGTON – Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton menyebut Korea Utara (korut) adalah negara yang lucu. Pyongyang sangat baik dalam membuat bom dan rudal, tetapi tidak mampu memberi makan warganya. Suami Hillary Clinton itu juga menyebut pemimpin Korut saat ini, Kim Jong-un, lebih militan daripada ayahnya Kim Jong-il dan kakeknya Kim Il-sung.

Presiden AS pada 1993-2001 itu mengklaim telah bekerja keras bersama Menteri Pertahanan sekaligus koordinator kebijakan untuk Korut, William Perry dan Kepala Staf Gabungan John Shalikashvili untuk mencegah persenjataan nuklir dari negara penganut komunis tersebut.

“Saya bekerja dengan keras untuk menangkalnya saat menjabat sebagai presiden. Mantan Menhan saya, Bill Perry, dan Jenderal John Shalikashvili, sangat pesimis langkah itu terwujud. Tetapi, kami bekerja keras untuk menghindari senjata nuklir Korut meski tingkat keberhasilannya kecil,” ucap Bill Clinton, seperti diwartakan Yonhap, Kamis (15/9/2016).

Salah satu tokoh Partai Demokrat itu menolak membahas kebijakan seperti apa yang akan diambil sang istri, Hillary Clinton. Seperti diketahui, perempuan kelahiran Chichago itu maju sebagai calon Presiden AS untuk periode 2016-2020. Mantan Menteri Luar Negeri AS itu menyarankan agar Negeri Paman Sam menjatuhkan sanksi yang lebih berat kepada Korut dengan dukungan Rusia dan China.

“Korut adalah negara yang sangat lucu. Mereka sangat baik dalam memproduksi rudal dan bom, tetapi tidak bisa memproduksi jagung. Mereka yakin Anda, media, politikus, dan seluruh dunia, menganggap mereka tidak berguna kecuali saat berperilaku buruk,” sambung pria berusia 70 tahun itu.

Krisis nuklir Korut pertama kali terjadi pada 1993, di masa Bill Clinton menjabat sebagai presiden. Ia sempat berpikir untuk melakukan serangan militer ke Korut, tetapi batal setelah tercapainya kesepakatan pada 1994 dengan Korut. Lewat negosiator bernama Kang Sok-ju, Korut sepakat untuk memperlambat program nuklir mereka dengan imbalan konsensus ekonomi dan politik.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming