Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sempat Tegang, Pemberontakan di Pantai Gading Berakhir Damai

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 08 Januari 2017 |18:01 WIB
Sempat Tegang, Pemberontakan di Pantai Gading Berakhir Damai
Pasukan penjaga keamanan PBB terlihat di luar Kota Bouake saat terjadinya pemberontakan tentara menuntut perbaikan gaji, 6 Januari 2017. (Foto: Reuters)
A
A
A

BOUAKE – Menteri Pertahanan Pantai Gading meninggalkan rumah tempatnya dan puluhan orang lainnya terjebak sejak Sabtu, 7 Januari. Rumah tersebut merupakan lokasi negosiasi yang diikuti Menteri Alain-Richard Donwahi guna mengakhiri pemberontakan tentara yang pecah di negara itu.

Meski pemberontakan tampaknya telah berhasil diselesaikan tanpa adanya pertumpahan darah, masih belum jelas apakah para tentara yang memberontak akan menghormati perjanjian yang diumumkan presiden Alassane Outtara.

Pemberontakan tersebut dimulai sejak Jumat pagi, 6 Januari 2017 waktu setempat saat tentara yang memberontak menguasai Bouake, kota terbesar kedua di Pantai Gading. Selama dua hari berikutnya, tentara-tentara di kamp militer di kota-kota seantero negeri ikut bergabung dengan para pemberontak.

Situasi ini dipicu ketidakpuasan para tentara terhadap berbagai kondisi yang mereka alami dan pemberontakan tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan tuntutan. Perundingan antara delegasi pemerintah yang dipimpin Menteri Pertahanan Donwahi dan pihak tentara pemberontak pun segera dilakukan.

Presiden mengatakan, dirinya setuju dengan beberapa keluhan yang disampaikan para tentara. Tetapi, dia tetap mencela cara mereka menyampaikan tuntutan tersebut.

“Saya ingin mengatakan bahwa cara menyampaikan tuntutan seperti ini tidak pantas. Cara ini menodai citra negara kita setelah semua upaya yang kita dilakukan untuk memulihkan ekonomi,” kata Ouattara dalam pidatonya sebagaimana dilansir dari Reuters, Minggu (8/1/2017).

Seorang pemberontak yang memantau dari dekat proses negosiasi mengatakan, para tentara puas dengan perjanjian yang diberikan oleh presiden yang menyetujui pemberian bonus dan perbaikan kondisi hidup para prajurit.

Namun, saat mereka bersiap untuk kembali ke barak, beberapa tentara yeng berada di luar rumah melepaskan tembakan, menyebabkan Menteri Donwahi, pejabat setempat, juru runding pemberontak dan beberapa jurnalis terjebak di dalam. Mereka baru dapat keluar beberapa jam kemudian.

Pernyataan dari Kementerian Pertahanan Pantai Gading membantah adanya penyanderaan yang dilakukan para tentara terhadap Donwahi.

“Pak menteri tidak terancam oleh para tentaranya tetapi terus melanjutkan pembicaraan,” demikian isi pernyataan tersebut.

Pantai Gading baru saja bangkit dari krisis politik dan perang sipil yang melanda negara itu dari 2002-2011 dan menjadi salah satu negara dengan perekonomian yang berkembang pesat di Afrika. Tetapi, militer yang terdiri dari gabungan pasukan pemberontak dan pemerintah membuat angkatan bersenjata negara itu terjangkit perpecahan internal.

Peristiwa kali ini terjadi hanya berselang dua tahun setelah terjadinya pemberontakan serupa yang juga diselesaikan pemerintah dengan menyetujui tuntutan para tentara. Digunakannya kembali solusi ini menimbulkan kekhawatiran terjadinya pemberontakan setiap kali para tentara memiliki tuntutan.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement