DENPASAR – Ada yang berbeda dengan peraayan Imlek 2017 di Kelenteng Griya Kongco Dwipayana Tanah Kilap dari vihara yang lainnya. Di sini, warga datang ke vihara mengenakan pakaian adat Bali.
Keberagaman di viraha ini kental terasa. Orang Bali dan keturunan Tionghoa bersama-sama berdoa di kelenteng ini. Selain memakai baju adat, mereka juga membawa sesajen berupa banten yang biasanya dipakai dalam sesaji umat Hindu.
Selain itu, setiap umat yang akan sembahyang harus memakai kain warna merah yang diikatkan di pinggang.
Pengurus Vihara Griya Kongco Dwipayan, Ida Bagus Adyana mengatakan, kelentengnya sangat mengedepankan keberagaman dan membawa kearifan lokal. Mereka tidak membedakan perlakuan bagi warga Bali maupun keturunan Tionghoa yang datang ke kelenteng tersebut.
“Memang viharanya benar-benar kearifan Bali. Kenapa saya bilang kearifan Bali karena menerima semua golongan. Jadi baik dia saudara China maupun Bali datang ke sini tidak ada rasa beda. Itulah yang namanya kearifan Bali yang ada di kelenteng sini,” jelasnya, di Denpasar, Sabtu (28/1/2017).
Setiap umat yang akan sembahyang memakai pengikat pinggang warna merah adalah simbol bahwa pengunjung kelenteng sudah membuang pikiran-pikiran yang jelek. “Di sini semuanya harus khusyuk bersujud kepada Tuhan. Supaya pikirannya itu tidak terpecah-pecah,” pungkasnya.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.