HAMPIR tak ada manusia dengan KTP Indonesia yang tidak mengenal Malioboro. Jangankan yang sudah berkunjung ke Kota Yogyakarta, yang belum pun mesti kerap mendengar kepopulerannya lewat berbagai media massa.
Kawasan Malioboro yang membentang dari Tugu Yogyakarta sampai Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, selalu jadi “primadona” warga lokal menghabiskan waktu dan para turis domestik maupun mancanegara sebagai destinasi utama di Kota Yogyakarta.
Namun saat biasanya kita hanya jalan-jalan, belanja dan wisata kuliner di Malioboro, sebenarnya berapa kira-kira dari Anda yang tahu betul tentang sejarahnya? Kemungkinan besar masih sangat terbatas, kan?
Nah, makanya penulis yang kebetulan berkesempatan ‘dolan’ (main/jalan-jalan) ke Yogya, penasaran akan sejarahnya. Tak perlu repot-repot cari buku di perpustakaan, cukup ikut sebuah “program” edukasi bersifat independen yang diadakan Komunitas Malam Museum.
Setiap Sabtu sekira jam 4 sore, komunitas yang diketuai mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) Samantha Aditya ini, mencoba mendekatkan masyarakat pada sejarah Yogyakarta, terutama tentang Malioboro lewat terobosan bernama “Malioberen”.
“Malioberen itu sebenarnya istilah orang-orang Belanda (sejak zaman kolonial) untuk jalan-jalan sore di Malioboro,” terang Samantha kepada Okezone.
“Makanya program kami untuk jelajah wisata edukasi dari titik nol sampai (hotel) Inna Garuda itu, namanya Malioberen. Tujuannya mengenalkan sejarah yang ada di Malioboro dan perkembangannya,” imbuhnya.
Inovasi Samantha dan kawan-kawannya sesama mahasiswa ini baru berjalan sebulan terakhir dan perkenalannya melalui Twitter/Instagram @malamuseum. Diadakan setiap Sabtu jam 4 sore dan titik kumpulnya ada di titik nol Kota Yogyakarta yang sekarang, lokasinya di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949.
Memang tidak gratis, tapi setidaknya dalam rangkaian acara itu, peserta yang mendaftar mau ikut bisa sukarela saja merogoh koceknya dan pastinya, sangat berharga kalau benar-benar ingin tahu sejarah Malioboro dengan cara yang lebih menyenangkan.
“Malioberen jadi upaya kami mendekatkan sejarah kepada masyarakat dengan lebih fun (menyenangkan). Basic kedekatannya juga kami melalui riset sejarah terlebih dulu. Kami mengembangkan itu dengan mencari titik-titik (sejarah) yang bisa diakses masyarakat umum,” timpal Erwin Djunaedi yang juga tergabung di Malam Museum.
“Nah bicara sejarahnya, lebih dulu kita harus bedakan antara Jalan Malioboro dan Kawasan Malioboro. Karena kalau Kawasan Malioboro itu dari Tugu Yogya sampai Kraton. Sementara Jalan Malioboro itu membentangnya hanya dari Stasiun Tugu sampai Kepatihan (Kantor Gubernur DIY),” lanjutnya.
(BERSAMBUNG...!)
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.