MERAK – Sekira tiga hari lagi, umat muslim bakal merayakan Idul Fitri 1438 Hijriah. Para perantau asal Sumatera pun mulai meninggalkan Pulau Jawa untuk merayakan momen suci dengan sanak saudara di kampong halaman.
Sebagai pelabuhan penghubung Pulau Jawa-Sumatera, Pelabuhan Merak kini mulai diserbu para pemudik. Namun, dibalik padatnya arus mudik, kapal laut di Pelabuhan Merak memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri saat bersandar.
'Suling Kapal', begitu masyarakat setempat atau pemudik menyebutnya. Layaknya ‘telolet’, yang sempat tenar dari klakson bus, suling kapal tak sembarangan dibunyikan oleh nahkoda kapal.
Terlebih jumlah bunyi suling kapal itu menandakan hal penting bagi petugas dan penumpang.
Ketika nahkoda kapal membunyikan satu kali suling, artinya kapal tersebut akan bersandar di pelabuhan untuk membongkar dan memuat penumpang. Berbunyi dua kali, kapal itu memberikan peringatan bahwa, persiapan sudah akan selesai dan siap untuk berlayar. Kemudian pada 'tiupan' ketiga, kapal tersebut meninggalkan pelabuhan menuju lokasi tujuan.
"Semua bunyi suling kapal ini memiliki arti semuanya," ungkap Petugas Bantuan Teknis Pelabuhan Merak Rohman saat berbincang dengan Okezone, Rabu (21/6/2017).
Tiap kapal di Pelabuhan Merak hanya diberikan waktu sekira satu jam untuk bersandar di bibir dermaga. Waktu itu digunakan untuk membongkar muatan dan mengisi muatan.
"Setengah jam bongkar dan setegah jam muat barang," sambungnya.
Jangka waktu perjalanan kapal laut sendiri dari Merak menuju Pelabuhan Bakauheni selama dua jam. Itupun juga cuaca alam mendukung perjalanan.
"Kalau tidak cuaca buruk 2 jam. Tetapi kalau buruk bisa mencapai 3 sampai 4 jam," tutup Rohman. (sym)
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.