Selang beberapa lama, Datuk yang menyaksikan itu pun mengambil selah-selah telur itu. Keanehan pun lagi-lagi terjadi. Meski telur bagian bawah sudah tak ada lagi, namun telur bagian atas masih tetap melayang. Hingga selah-selahnya dicopoti Datuk, telur itu masih juga melayang.
Akhirnya, setelah tiga kali menguji kesaktian, Raja Luwu La Patiware pun takjub dengan kesaktian Datuk Sulaiman. Dia lalu mempersilahkan Datuk menyampaikan risalah tujuannya datang ke rumah raja.
Saat itu juga, Datuk mengajak raja untuk memeluk Islam. Melalui dialog panjang siang dan malam, akhirnya Raja Luwu dan se-isi istana menerima ajaran islam. Datuk Sulaiman pun menuntun mereka membaca dua kalima syahadat.
Diterimanya Islam di Luwu, ditandai dengan pembangunan masjid yang letaknya tidaklah jauh dari istana Luwu pada tahun 1604 Masehi. Masjid itu kini dikenal Masjid Jami Tua, yang letaknya di Kota Palopo, Sulawesi Selatan.
"Kedatangan Datuk ke Luwu sebenarnya dalam misi menyebar Islam dengan pendekatan tauhid. Itu karena orang-orang Luwu sejatinya sudah mengenal tauhid, Datuk datang tinggal menyempurnakan itu sesuai ajaran Islam," terang Saprillah.