MENJELANG akhir Perang Dunia (PD) II, kekuatan Sekutu Tiga Besar yaitu Amerika Serikat (AS), Uni Soviet, dan Inggris untuk sementara sepakat membagi Korea menjadi dua zona terpisah dengan pemerintahan masing-masing. Pembagian tersebut didasari dengan ketentuan bahwa Uni Soviet mendapatan wilayah Utara dan AS mendapat wilayah selatan.
Pada 1949, pemerintah dari dua Korea telah terbentuk. Baik AS atau Uni Soviet sama-sama mulai menarik sebagian pasukannya dari Semenanjung Korea. Sebuah insiden kemudian terjadi ketika tentara dari wilayah Korea Utara (Korut) melintasi perbatasan pada 25 Juni dengan dilengkapi persenjataan seperti tank buatan Uni Soviet dan memicu konflik.
Dua hari kemudian pasca-insiden tersebut, Presiden AS saat itu, Harry Truman menyatakan bahwa Negeri Paman Sam akan ikut campur tangan atas konflik Korea guna menghentikan perkembangan para kaum komunis. Pada 28 Juni Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengizinkan penggunaan senjata dan kekuatan sekutu untuk melawan komunis Korut.
Pada awal bulan dimulainya perang, pasukan PBB yang dipimpin AS bergerak dengan cepat dalam melawan Korut. Tepat pada 5 Juli 1950, seorang pasukan AS bernama Privat Kenneth Shadrick menjadi tentara pertama yang tewas dari pihak sekutu. Pria yang berasal dari Skin Fork, West Virginia itu kehilangan nyawanya akibat tertembak peluru musuh sesaat setelah melepaskan tembakan dari senjata bazoka ke arah tank Uni Soviet dalam perang yang berlangsung di Sojong, Korsel. Shadrick diketahui tewas di usia muda yakni 19 tahun.
Kemudian pada Oktober, pasukan komunis China bergabung dengan keributan dan membuat Sekutu mundur dengan tergesa-gesa. Pada Mei 1951, komunis didorong kembali ke belakang. Dua tahun setelah perang atau tepatnya pada 1953, kedua Korea menandatangani gencatan senjata untuk mengakhiri perang.
Perang tersebut diperkirakan telah membunuh sekira 150 ribu tentara baik dari Korsel, AS dan negara-negara yang tergabung dalam PBB. Selain itu diperkirakan lebih dari 1 juta warga sipil Korsel juga tewas terbunuh selama perang. Sementara dari pihak utara, diperkirakan terdapat 800 ribu tentara yang gugur dan lebih dari 200 ribu warga sipil terbunuh.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.