Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

HISTORIPEDIA: 'I Have A Dream', Martin Luther King Jr. Menyampaikan Pidato Bersejarah di Washington

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 28 Agustus 2017 |06:01 WIB
HISTORIPEDIA: '<i>I Have A Dream</i>', Martin Luther King Jr. Menyampaikan Pidato Bersejarah di Washington
Martin Luther King Jr. (tgh) saat berpidato di Washington, 28 Agustus 1963. (Foto: Reuters)
A
A
A

GERAKAN perjuangan kaum Afrika-Amerika mencapai puncaknya pada 28 Agustus 1963 saat Dr. Martin Luther King Jr. berbicara di depan 250 ribu orang yang menghadiri Pawai untuk Pekerjaan dan Kebebasan di Washington. Para pengunjuk rasa, baik warga kulit hitam maupun kulit putih, berkumpul bersama di Ibu Kota Amerika Serikat (AS) itu untuk menuntut hak memberikan suara dan kesetaraan bagi warga Afrika Amerika serta penghapusan pemisahan dan diskriminasi terhadap warga Afrika Amerika.

Pawai damai tersebut adalah pertemuan terbesar untuk membicarakan keluhan-keluhan yang pernah terjadi di Washington dan King adalah pembicara terakhir. Dengan patung Abraham Lincoln di belakangnya, King berpidato, menunjukkan kepada orang-orang bahwa warga kulit hitam Amerika masih belum merdeka. Dia menceritakan perjuangan yang akan datang, menekankan pentingnya meneruskan aksi dan demonstrasi damai.

Setelah sampai pada akhir teks pidato yang disiapkannya, King terbawa suasana dan melanjutkan dengan pidato yang diimprovisasi. Saat itu, King menyampaikan salah satu pidato terkenal dalam sejarah dunia.  

“Saya memiliki mimpi, bahwa suatu hari bangsa ini akan bangkit dan menjalankan makna sebenarnya dari kepercayaannya: 'Kami memegang kebenaran ini untuk menjadi bukti nyata: bahwa semua manusia diciptakan sama.’” kata King dalam pidatonya yang dikutip dari History.

Meski sebelumnya pernah menggunakan kata-kata “Saya memiliki mimpi”, ini pertama kalinya King menyampaikannya dengan kekuatan, secara efektif. Dia menyamakan gerakan persamaan hak sipil dengan idealisme Amerika dan memperlihatkan kepada khalayak betapa pentingnya persamaan rasial. King mengakhiri pidato 16 menitnya dengan visinya mengenai hasil dari harmoni rasial.

Setahun setelah pawai dan pidato bersejarah itu, gerakan perjuangan hak sipil berhasil mewujudkan dua sukses terbesarnya, yaitu ratifikasi Amandemen ke-24 Undang-undang Dasar Amerika Serikat (AS) yang menghapuskan pajak jajak pendapat dan mengesahkan Undang-Undang Hak Sipil 1964 yang melarang diskriminasi rasial dalam pekerjaan dan pendidikan serta melarang pemisahan rasial di fasilitas umum.

Pada Oktober 1964, Martin Luther King Jr. dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian atas jasa-jasanya dalam persamaan hak sipil di AS. Namun, pada 4 April 1968, dia ditembak mati saat berdiri di balkon sebuah motel di Tennessee oleh seorang narapidana yang kabur dari penjara, James Earl Ray. Saat itu, usia King baru 39 tahun.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement