Image

Malala Yousafzai: Saya Menunggu Suu Kyi Kutuk Penyerangan terhadap Rohingya

Rufki Ade Vinanda, Jurnalis · Senin 04 September 2017, 18:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 09 04 18 1769140 malala-yousafzai-saya-menunggu-suu-kyi-kutuk-penyerangan-terhadap-rohingya-t2vq2bO5Wn.jpg Malala Yousafzai. (Foto: Reuters)

ISLAMABAD - Aktivis sekaligus advokat pendidikan terkemuka asal Pakistan, Malala Yousafzai, ikut angkat suara terkait dengan musibah yang menimpa masyarakat Rohingya. Sebagai sesama penerima Nobel Perdamaian, Malala meminta Aung San Suu Kyi untuk mengutuk perlakuan keji yang diterima etnis Rohingya di Myanmar.

Pernyataan itu disampaikan oleh Malala melalui media sosial Twitter miliknya. Perempuan berusia 20 tahun itu dalam cuitannya bahkan menekankan jika 'dunia kini tengah menunggu' sang penasihat negara sekaligus pemimpin de facto Myanmar itu untuk segera bertindak menghentikan kekerasan terhadap Rohingya.

"Selama beberapa tahun terakhir, saya telah berulangkali mengutuk perlakuan tragis dan memalukan ini (kekerasan terhadap Rohingya). Saya masih menunggu rekan saya peraih Nobel Aung San Suu Kyi untuk melakukan hal yang sama," tulis Malala dalam cuitannya sebagaimana dimuat Time, Senin (4/9/2017).

Baca Juga: Mencemaskan! Berikut Sejumlah Penderitaan yang Menimpa Etnis Rohingya

Baca Juga: Nah! Bantah Klaim Militer Myanmar, Aktivis: 1.000 Muslim Rohingya Dibantai, Bukan 400!

Sebagaimana diketahui, Malala memang dikenal vokal dalam menyerukan penghentian kekerasan terhadap orang-orang Rohingya. Tak hanya itu, ia juga meminta warga Pakistan untuk mau membuka pintu dengan menyediakan tempat tinggal, makanan dan pendidikan kepada para pengungsi Rohingya.

"Hingga hari ini kita telah melihat foto anak-anak kecil yang dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar. Anak-anak ini tidak menyerang siapa pun, namun rumah mereka juga dibakar habis," imbuh Malala.

Malala Yousafzai meraih Nobel Perdamaian pada 2014 menyusul keberaniannya dalam melawan penindasan. Ia bahkan berhasil selamat setelah ditembak di kepala oleh pasukan Taliban saat memimpin kampanye tentang hak pendidikan bagi kaum perempuan.

Baca Juga: Tiba di Naypyitaw, Menlu Retno Akan Bahas Pembangunan Rumah Sakit Indonesia

Malala diketahui merupakan perempuan termuda yang pernah meraih Nobel Perdamaian. Sementara itu, Aung San Suu Kyi menerima Nobel pada 1991 atas perannya memperjuangkan demokrasi hak asasi manusia dan melawan kekerasan. Namun, Suu Kyi kini menerima banyak kritik atas Nobel yang diterimanya menyusul kegagalannya melindungi Rohingya.

Sebagaimana diketehui, kekerasan terhadap Rohingya kembali meningkat menyusul pecahnya pertempuran antara pemberontak Rohingya dan pasukan Pemerintah Myanmar pada 25 Agustus. Sedikitnya 98 tewas dan lebih dari 90 ribu warga Rohingnya lainnya mencoba meninggalkan Myanmar untuk mengungsi.

Baca Juga: Bela Rohingya, Unjuk Rasa Muslim Indonesia di Depan Kedubes Myanmar Disoroti Media Asing

(rav)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini