Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Melihat Lebih Dalam Sembayang Leluhur Jing He Ping bagi Umat Konghucu

Arsan Mailanto , Jurnalis-Jum'at, 08 September 2017 |07:31 WIB
Melihat Lebih Dalam Sembayang Leluhur Jing He Ping bagi Umat Konghucu
A
A
A

Dikatakan Tjhia, agama Khonghucu menuntun umatnya untuk senantiasa hormat dan menjalankan ibadah sebagaimana mestinya, yang terutama berlandaskan pada kitab Suci Li Ji (Catatan Kesusilaan). Dalam kitab Khonghucu, Nabi Kongzi bersabda bahwa tidak perlu upacara yang mewah dan menyolok tetapi lebih baik sederhana, dari pada meributkan perlengkapan upacara lebih baik ada rasa sedih yang benar (Baca kitab Lunyu III: 4).

"Kita memakai Sansheng adalah makanan sajian, menyajikan makanan adalah juga salah satu bentuk pernyataan kasih anak yang berduka atau bersembahyang. Ikan dan daging itu beraroma sedap maka mempersembahkan itu menunjukkan cinta kepada leluhur," paparnya.

Menurutnya, menyajikan Sansheng itu tidak harus, tapi jika mempunyai kemampuan untuk menyajikan tentunya lebih baik. Dan untuk membakar kertas Perak (Yinzhi) adalah simbol bakti dan kasih anak kepada leluhurnya. Khonghucu mengenal upacara kematian dan pemakaman. Agama Khonghucu yang dikenal dengan nama Rujiao sudah mengenal upacara kematian dan pemakaman sejak Nabi Shen Nong (2838 SM - 2698 SM).

"Tak hanya itu dalam Khonghucu juga meyakini akan adanya kehidupan setelah kematian, keyakinan akan adanya roh-roh para leluhur. Semua yang dilahirkan pasti mengalami kematian yang mengalami kematian pasti pulang kepada tanah inilah yang berkaitan dengan Gui," imbuhnya.

Dikesempatan yang sama, Hermanto Phoeng turut berpartisipasi dalam kegiatan sembayang leluhur agama Jing He Ping memberi bantuan ke Kelenteng Setia Dharma Pedindang, Kelenteng Lambau, Kelenteng Pasir Putih dan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

"Kegiatan sembayang Jing He Ping, kita turut berpartisipasi memberi bantuan ke Kelenteng. Memang diketahui sembayang leluhur agama ini bermakna sembayang atau penghormatan untuk kedamaian para arwah yang biasanya dilaksanakan setiap bulan 7 Kongzi Li / Imlek yang jatuh sekitar bulan 8 atau bulan 9 penanggalan masehi," ucapnya.

Pria yang akrab disapa Ko Aliong yang juga Ketua DPW Partai Perindo Bangka Belitung tersebut juga menceritakan, sembayang leluhur yang diakukan selama ini adalah bagian dari ajaran dan keimanan Khonghucu, karena semuanya tertulis di kitab suci agama Khonghucu khususnya kitab Li Ji, jelaslah bahwa sembayang leluhur itu adalah suatu kegiatan yang sangat penting dalam agama Khonghucu.

Maka dari itu dirinya berharap, supaya kegiatan keagamaan seperti ini juga mendapat perhatian dan support dari Pemerintah dan Dinas Pariwisata menjadikannya suatu agenda wisata yang bisa menarik wisatawan berkunjung. Sama seperti acara kegiatan keagamaan di Bali yang diorganisir dengan sangat baik dan terarah.

"Saya harap kegiatan keagamaan ini bisa jadi daya tarik wisatawan yang berkunjung sama seperti kegiatan keagamaan di Bali yang dikelola dengan sangat baik dan terarah," tandas Hermanto.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement