Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Yuk, Kenalan Lebih Dekat dengan Badak Jawa dan Cara Melindunginya

Khafid Mardiyansyah , Jurnalis-Senin, 25 September 2017 |20:46 WIB
Yuk, Kenalan Lebih Dekat dengan Badak Jawa dan Cara Melindunginya
Badak Jawa (Foto: Taman Nasional Ujungkulon)
A
A
A

UJUNGKULON - Badak Jawa atau dalam bahasa latin disebut dengan Rhinoceros Sondaicus menjadi hewan yang sangat terancam punah. Populasinya hanya tinggal 67 ekor dan hanya terdapat di Taman Nasional Ujungkulon, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Badak Jawa sendiri berbeda dengan badak lain semisal Badan Sumatera dan Badak Afrika. Badak jenis ini hanya memiliki satu cula untuk jantan, dan cula berbentuk batok bagi betina.

Badak Jawa, dalam penelitian lebih lanjut, memiliki bobit 1.600-2.280 kilogram. Keunikan badak jenis ini yakni kulit yang masih memiliki mozaik seperti baju zirah dengan lekuk purbakala yang memesona.

Selain itu, bibir atas Badak Jawa panjang meruncing untuk mempermudah mengambil daun dan ranting. Habitatnya sendiri ada di dataran rendah atau hutan sekunder yang banyak ditumbuhi tumbuhan, karena hewan mamalia ini merupakan herbivora yang memakan daun, tunas atau buah-buahan dari tumbuhan kayu dan tanaman tingkat semak.

Kepala Balai Taman Nasional Ujungkulon, Ujang Mamat Rahmat menyebutkan bahwa Badak Jawa adalah salah satu hewan yang romantis dan sayang dengan anak. Hal tersebut dilihat dari praktek kawin dan mengasuh anak yang dilakukan badak.

"Kawin mereka sendiri, dalam artian penetrasi bisa sampai satu jam. Nah, sebelum itu mereka bisa seharian bersama. Mandi bersama, saling berbagi makanan, jalan-jalan bersama dan selalu berdua," jelas Rahmat belum lama ini.

Rahmat juga menjelaskan bahwa Badak Jawa merupakan hewan paling posesif terhadap anaknya. Ia menceritakan, pernah pada suatu waktu, dia bersama tim, bertemu dengan badak yang baru melahirkan. Saat itu, ibu badak langsung siaga mengawasi lingkungan begitu mencium bau makhluk asing.

"Nafasnya menderu, kuping terangkat, kaki dihentakkan begitu mencium bau kita. Lalu anaknya dia masukan ke sela kaki dan perutnya untuk dilindungi," papar Rahmat.

"Setelah tahu kondisi aman, ia menyuruh anaknya lari. Lalu ia seperti menggerak-gerakan kaki dengan gerakan yang aneh, ternyata itu demi menghapus jejak kaki anaknya, lalu ia pergi sambil menginjak setiap jejak kaki anaknya agar predator tak mengetahui bahwa ada anak badak di sekitar lokasi itu," imbuhnya.

Rahmat pun mengimbau kepada masyarakat untuk tak mengganggu habitat asli badak di Ujungkulon. Jika hendak menemui badak, maka harus disesuaikan sesuai prosedur yang diundangkan.

"Jangan pula memburu, karena memburu badak sebenarnya sia-sia, tak ada analisis medis yang menyebutkan bahwa cula badak bisa meningkatkan kejantanan, semua itu bohong," pungkasnya.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement