BOM hidrogen kini kembali menjadi perbincangan hangat masyarakat dunia. Pasalnya, Pemimpin Korea Utara (Korut) kerap melakukan uji coba bom tersebut sehingga mengganggu keamanan negara-negara di sekitarnya.
Namun, jauh sebelum Korut terus-menerus melakukan uji coba yang membuat geram masyarakat di dunia itu, Negeri Paman Sam telah lebih dulu menggunakan senjata berbahaya tersebut. Tepat 65 tahun yang lalu, AS meledakkan senjata termonuklir pertama di dunia.
Pada 1 November 1952, AS meledakkan bom hidrogen di Enewetak, Kepulauan Marshall, Samudera Pasifik. Dengan meledakkan bom tersebut, Amerika menjadi satu langkah di depan dibandingkan Uni Soviet dalam perlombaan senjata nuklir.
Bom hidrogen ini dibuat AS tak lama setelah Uni Soviet berhasil meledakkan perangkat atom pada September 1949. Padahal, pasca-menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, pemerintah Amerika Serikat tidak melanjutkan pengembangan bom hidrogen. Namun, setelah Soviet berhasil meledakkan bom atom, Presiden AS saat itu, Harry S Truman, langsung memerintahkan dibentuknya proyek bom hidrogen.
Seakan tak mau kalah dengan sang rival, Amerika Serikat langsung mempercepat program persenjataan atom, yakni dengan membuat sebuah bom termonuklir. Pembuatan bom ini merupakan anjuran dari seorang ahli yakni Dr Teller. Pria yang ditugaskan untuk membangun bom atom untuk Sekutu itu pun menganjurkan Negeri Paman Sam untuk membuat bom superhidrogen.
Dengan bantuan matematikawan Polandia Stanislaw Ulam, Teller mengembangkan sebuah model untuk bom hidrogen yang dikenal sebagai desain Teller-Ulam. Para ilmuwan membangun sebuah struktur bertingkat tiga, yang diberi nama ‘Mike’ di Pulau Elugelab di Eniwetok.
Mike bukan bom biasa, karena tidak praktis untuk digunakan dalam peperangan. Bom ini hanya dimaksudkan untuk menguji prinsip-prinsip desain Teller-Ulam dan membantu ilmuwan membuat kemajuan dalam membangun bom yang lebih kecil.
Bom tersebut pun akhirnya selesai dibuat dan dikenal sebagai bom hidrogen. Senjata baru ini kira-kira 1.000 kali lebih kuat daripada perangkat nuklir konvensional.
Bom Mike meledak dengan hasil 10,4 megaton dan menghasilkan bola api lebih dari 4 kilometer. Ledakan ini telah menghancurkan Pulau Elugelab dan sebagian pulau di dekatnya. Desain Teller-Ulam adalah konsep di balik sebagian besar senjata nuklir dunia saat ini
Berita mengenai ledakan tersebut muncul lebih dari dua minggu kemudian. Saat itu, salah satu media AS yakni The New York Times menulis, "Komisi Energi Atom mengumumkan percobaan 'memuaskan' malam ini dalam penelitian senjata hidrogen. Dalam pengumuman tiga paragraf, Komisi sudah melangkah lebih jauh dan menyatakan bahwa sebuah bom hidrogen skala penuh telah diledakkan. Namun dikatakan, eksperimen yang berkontribusi terhadap penelitian bom hidrogen telah selesai dibuat.”
Setelah AS meledakkan bom hidrogen tersebut, para penentang pengembangan bom hidrogen, termasuk J. Robert Oppenheimer, memperkirakan bahwa senjata yang lebih dahsyat akan dengan cepat muncul. Pasalnya, perlombaan senjata belum berakhir. Mereka menduga bahwa Soviet akan segera mengikutinya.
Dugaan tersebut pun benar-benar terjadi. Uni Soviet meledakkan sebuah perangkat termonuklir pada tahun berikutnya dan pada akhir 1970-an.
Bahkan, senjata termonuklir itu tak hanya dibuat oleh AS dan Uni Soviet. Tujuh negara lainnya tercatat telah ikut membangun bom hidrogen setelah AS menjadi negara pertama yang meledakkannya. Akibatnya, perlombaan senjata nuklir telah mengambil langkah maju yang menakutkan. (DJI)
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.