JAKARTA - Putri Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kahiyang Ayu kini telah menjadi putri Batak dari tanah Jawa. Lewat serangkaian prosesi adat, Kahiyang resmi menyandang gelar Siregar.
Pemberian marga Siregar kepada Kahiyang, dijelaskan Doli Sinomba Siregar, paman dari Bobby Nasution, suami Kahiyang adalah karena marga tersebut merupakan marga dari ibunda Bobby, Ade Hanifah Siregar.
Selain untuk memberikan identitas etnis, pemberian marga juga dilakukan sebagai penghormatan untuk Kahiyang. Dan bagi Kahiyang, marga yang disematkan kepadanya merupakan sebuah tanggung jawab moral yang harus ia emban di sepanjang hidupnya.
“Agar bisa digelar dengan pesta adat, Kahiyang harus diberi marga. Bobby ini dibesarkan secara adat. Tentunya, bila seorang pengantin mengambil boru atau istri. Karena Kahiyang bersuku Jawa, tentunya kita bertanggung jawab memberikan marga,” tutur Doli.
“Itulah sebabnya acara pemberian marga ini diadakan di rumah Doli Sinomba Siregar, tulang atau kakak laki-lakinya ibundanya Bobby. Di rumah saya,” tambahnya.
Lalu, dari manakah marga Siregar berasal?
Konon, marga Siregar berasal dari nama anak bungsu Si Raja Lontung dan istrinya, Si Raja Pareme. Siregar adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara yang terdiri dari tujuh laki-laki dan dua perempuan.
Awalnya, Si Raja Lontung bermukim di Desa Banuaraja, sebuah desa yang terletak di sekitar perbukitan di atas Desa Sabulan, persis di pinggir Danau Toba dan berseberangan dengan Panguruan di Pulau Samosir.
Kemudian, sebuah banjir besar melanda Desa Banuaraja dan Sabulan. Buntutnya, seluruh keluarga kerajaan serta keturunannya dievakuasi ke berbagai wilayah lain di sekitar Samosir. Sinaga dan Pandiangan bergeser ke Urat, Nainggolan ke Nainggolan, Simatupang dan Aritonang ke Pulau Sibandang, sedang Siregar harus berpindah ke Aeknalas di Sigaol.
Suatu hari, Siregar dipanggil oleh sang kakak, Aritonang ke Desa Aritonang di Muara. Siregar pun kemudian menetap dan beranak-pinak di sana. Dari Desa Aritonang itulah kemudian keturunan Siregar menyebar dan terbentuk menjadi sebuah marga.
Perantauan Siregar
Pada suatu waktu, sebuah kemarau panjang melanda Muara. Kemarau tersebut mengakibatkan kekeringan yang berujung pada gagal panen. Sebagian marga Siregar kemudian berpindah ke Siborongborong, Humbang. Di sana, mereka mendirikan sebuah desa yang diberi nama Lobu Siregar.
Perantauan Siregar tak berakhir di sana. Dari Lobu Siregar, sebagian marga Siregar kembali menjelajah, mulai dari Pangaribuan, berpindah ke Sibatangkayu, kembali bergeser ke Bungabondar dan berakhir di Sipirok, wilayah Tapanuli Selatan.
Kabar kesuksesan marga Siregar di sejumlah wilayah perantauan pun sampai ke Muara, tempat asal marga Siregar. Sebagian keturunan Siregar di Muara pun memutuskan untuk pindah ke Tarutung, Silundung dan mendirikan sebuah desa yang dinamai Simarlala Pansurnapitu.
Belum juga berakhir. Perpindahan keturunan Siregar ke Simarlala Pansurnapitu pun berlanjut dengan penjelajahan lain yang mereka lakukan ke Pantis, Pahae. Seperti di titik-titik perantauan lainnya, mereka pun mendirikan Desa Onanhasang, Simangumban dan Bulupayung, serta beranak-pinak di sana.
Konflik Antar Saudara
Konon, Siregar, si bungsu sempat akan dibunuh oleh beberapa kakaknya. Rasa sayang yang amat besar yang diberikan Si Raja Lontung kepada Siregar kerap memicu kecemburuan di antara anak-anak kandungnya yang lain, saudara-saudara Siregar.
Namun, salah satu kakak Siregar, Nainggolan tidak setuju dengan rencana tersebut, dan berupaya menyelamatkan nyawa adiknya. Nainggolan kemudian membawa Siregar keluar dari Samosir dan membawanya ke Muara. Seperti yang dikisahkan sebelumnya, Muara inilah yang kemudian menjadi asal muasal penyebaran marga Siregar.
(ydp)
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.