nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Makam Tua di Puncak Bukit Tingkir Sragen

Agregasi Solopos, Jurnalis · Senin 25 Desember 2017 16:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 25 512 1835648 kisah-makam-tua-di-puncak-bukit-tingkir-sragen-IpPJD3gI4g.JPG (Foto: thearoengbinangproject)

SRAGEN - Tiada ada yang tahu persis cerita atau sejarah keberadaan makam-makam tua dari bebatuan Punden atau Bukit Tingkir, Sangiran, Krikilan, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah. Selama puluhan tahun warga diwariskan cerita sederhana bahwa makam-makam itu merupakan jejak atau peninggalan rombongan Mas Karebet atau Joko Tingkir.

Namun, tak ada yang tahu persis kapan dan dalam rangka apa rombongan Joko Tingkir singgah di Bukit Tingkir kala itu. Karena sejarahnya itu, warga menyebut lokasi makam-makam tersebut sebagai Punden atau Bukit Tingkir.

Beberapa puluh tahun lalu terdapat cukup banyak makam tua di bukit itu. Tapi kini tinggal tersisa tiga makam. Pada waktu-waktu tertentu Punden Tingkir didatangi orang-orang dari luar Kalijambe yang bermaksud menyepi.

“Punden Tingkir itu ya satu kesatuan bukit dengan makam-makamnya. Sayang sekarang banyak yang hilang dan rusak,” ujar Kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Krikilan, Aries Rustiyoko, sebagaimana dilansir dari laman Solopos.com.

(Baca juga: Buaya Masuk Kampung, Warga Jombang Dibuat Geger)

Ia menjelaskan belakangan para pemuda Sangiran mulai bergerak merawat Punden/Bukit Tingkir. Bukit di pinggir dusun dan berbatasan langsung dengan areal persawahan warga itu akan dikembangkan sebagai bumi perkemahan dan wahana outbond. Tapi keberadaan makam-makam tetap dipertahankan.

Selain makam tua, di Bukit Tingkir terdapat sebongkah besar batu yang oleh penduduk setempat disebut watu gong. Konon ada masa di mana bila dilakukan prosesi tertentu akan muncul seperangkat gamelan di batu itu. Dulu warga melakukan prosesi tersebut untuk meminjam seperangkat gamelan itu.

“Batunya berbentuk oval dengan bidang atasnya datar. Panjang dan lebarnya sekitar dua meter. Konon dulu kalau dilakukan prosesi tertentu akan muncul seperangkat gamelan. Warga lantas memanfaatkan gamelan itu untuk keperluan hajatan. Tapi karena ada alat yang tak dikembalikan, kini tak bisa lagi,” jelasnya.

(Baca juga: Kisah Pilu Bayi Tunanetra asal Aceh: "Dokter, Mamaku di Mana?")

Sementara, Kepala Desa (Kades) Krikilan, Widodo, mengungkapkan, makam-makam tua di Bukit Tingkir dibiarkan alami tanpa pemugaran. Hanya pada waktu-waktu tertentu dilakukan kegiatan pembersihan area sekitar makam.

“Konon itu makamnya pengikut Joko Tingkir. Tapi itu cerita rakyat ya, saya tidak tahu persis,” ia mengisahkan.

Widodo mengatakan hingga kini masih ada beberapa orang yang berziarah atau menyepi di Bukit Tingkir. Mereka berasal dari sejumlah daerah di Soloraya.

“Ada yang dari Kartasura atau daerah-daerah lain di Soloraya, bukan warga Krikilan. Bukit ini masuk wilayah RT 011, Dukuh Sangiran, Krikilan,” ucapnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini