Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Patriotik Joni, Tetap Panjat Tiang Bendera Meski Tengah Sakit Perut dan Dirawat

Adi Rianghepat , Jurnalis-Jum'at, 17 Agustus 2018 |21:25 WIB
Cerita Patriotik Joni, Tetap Panjat Tiang Bendera Meski Tengah Sakit Perut dan Dirawat
Joni bersama keluarganya (Foto: Ist)
A
A
A

KUPANG - Yohanes Gama Marchal Lau, bocah pemanjat tiang bendera saat insiden tali bendera yang putus di upacara HUT ke-73 RI di Pantai Motaain, Desa Silawan, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, wilayah batas RI-Timor Leste, Jumat 17 Agustus 2018 pagi tadi ternyata sedang menderita sakit perut.

Informasi yang dihimpun Okezone dari Kabupaten Belu menyebutkan sebelum memanjat tiang bendera, Yohanes sedang dirawat di sebuah tenda di sekitar lokasi oleh tim medis. "Ya Yohanes sendiri yang berinisiatif berlari menuju tiang bendera lalu memanjatnya," kata sebuah sumber yang meminta namanya tak disebutkan.

Dikisahkan, saat upacara berlangsung sebelum memasuki momentum pengibaran bendera merah putih, siswa yang biasa dipanggil Joni itu sudah lebih dahulu keluar barisan karena menderita sakit perut. Siswa kelas 7 SMPN Silawan itu lalu dirawat sejumlah petugas medis di sebuah tenda di sekitar lokasi upacara.

Di tengah kondisi itu saat memasuki puncak acara pengibaran bendera, peserta upacara lalu terdengat riuh. Keriuhan terjadi karena utas tali yang digunakan untuk menggerek bendera ke puncak tiang putus. Namun karena insiden itu terjadi setelah para petugas pengibar mengikat tali bendera ke utas tali gerek dan dinyatakan siap maka peserta pun tetap melanjutkan upacara dengan menyanyi lagu Indonesia Raya.

Meskipun lagu terus dinyanyikan namun bendera tak tergerek hingga ke puncak tiang. Mendengar riuh dan ributnya peserta upacara, Joni pun sigap.

"Dia (Joni) lalu membuka sepatunya dan langsung berlari ke tiang bendera dan langsung memanjatnya," kata sumber itu.

Beberapa saat memanjat Joni sempat berhenti karena kelelahan dan akhirnya dilanjutkan hingga ke puncak tiang dan menyambungkan utas tali yang putus. Aksi heroik bocah kelahiran 10 Oktober 2004 itu mampu menyelamatkan situasi saat itu.

"Ya bendera akhirnya bisa digerek petugas dan berkibar di puncak tertinggi tiang itu setelah terhenti kurang lebih 30 menit," kata sumber itu lagi.

Joni mendapat pujian dan apresiasi semua pihak, bahkan inspektur upacara saat itu yaitu Wakil Bupati Belu JT Ose Luan lalu meminta sang bocah berdiri di mimbar kehormatan untuk bersama menyisahkan seremoni upacara tersebut.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement