Nyawa Haringga Sirla dan Budaya Kekerasan Penonton Sepakbola Fanatik

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 25 September 2018 07:27 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 25 525 1955144 nyawa-haringga-sirla-dan-budaya-kekerasan-penonton-sepakbola-fanatik-U7XzFi2ont.JPG Haringga Sirla. (Foto: Ist)

BADAN Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) memberikan waktu satu minggu kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk menangani insiden pengeroyokan seorang suporter sepakbola hingga meninggal dunia.

"Dalam satu pekan tidak ada kegiatan kompetisi sebelum ada langkah konkrit," kata Ketua Umum BOPI Richard Sam Berra, di Gedung Kementerian Olahraga, Jakarta, Senin 24 September 2018.

Menurut Richard, insiden ini terjadi berulang kali, dan selama ini tidak ada langkah serius dalam penindakannya.

Haringga Sirla adalah korban tewas ketujuh dalam aksi kekerasan yang mewarnai pertandingan sepakbola antara Persib melawan Persija, menurut catatan Save Our Soccer sejak 2012. Insiden itu terjadi pada Minggu siang (23/9).

Korban tewas dalam kurun waktu enam tahun dari klub yang dijuluki Viking dan The Jak itu menambah panjang daftar korban jiwa pendukung sepakbola. Sejak tahun 1994 terdapat 70 korban jiwa suporter sepakbola di Indonesia.

Dalam kasus terbaru, Haringga tewas dikeroyok sekelompok orang di lapangan parkir Stadion Bandung Lautan Api (GBLA), sebelum pertandingan berlangsung.

Menurut Match Commissioner PT Liga Indonesia Baru, sebagai operator Liga 1, Asep Saputra, mengatakan tewasnya Haringga akan menjadi catatan penting untuk menyusun langkah konkrit seperti yang diminta BOPI.

Senada dengan Asep, PSSI juga sedang mengumpulkan data. "Kita lihat sejauh mana, jika ada regulasi yang dilanggar, seperti kasus kriminal, kita akan serahkan kepada polisi." Ujar Gatot Widagdo, Direktur Media PSSI.

Jenazah Haringga. (Foto: Toiskandar/Okezone)

Dalam 24 jam ke depan, terhitung Senin sore (24/09) PSSI akan melakukan koordinasi dengan operator Liga 1, PT. Liga Indonesia Baru, karena penghentian kegiatan kompetisi akan mengganggu jadwal yang sudah ditetapkan.

Peraturan melarang kehadiran suporter tim tamu yang bertandang, seperti pertandingan sebelumnya di Stadion PTIK, Jakarta, pada 30 Juni 2018 lalu yang melarang Bobotoh untuk hadir dalam pertandingan Persija melawan Persib.

"Waktu Persib main di Stadion PTIK, ada tiga penyusup, lalu kita komunikasi dengan Viking, panitia pelaksana dan korlap untuk kita lindungi karena dia terang-terangan bawa syal (atribut Persib), saya berharap perlakuan yg sama bisa diterima dengan penyusup di sana." Kata Ferry Indrasjarief, ketua Jakmania.

Meskipun dilarang untuk datang ke pertandingan, Ferry merasa bahwa fanatisme kepada klub sepakbola membawa mereka untuk bertindak nekat, apalagi sejak adanya larangan menonton klub sepakbolanya di kandang lawan.

Menurut Ferry, fanatisme terhadap klub sepak bola kesayangan haruslah menguntungkan klub, bukan justru merugikan. "Memberi dukungan lewat yel-yel sopan, bahkan support finansial, itu baru fanatik," kata Ferry.

Perlu moratorium agar semua pihak belajar

Ferry juga menerangkan bahwa konflik antara Jakmania dan Viking awalnya tidak sesadis ini. "Prosesnya seperti bola salju, semakin banyak anggota The Jak, lalu gesekan pun terjadi," imbuhnya.

Menurut Ferry, jumlah suporter Persija yang terdaftar sampai saat ini sekitar 45.000 orang yang tercatat, belum lagi yang tidak tercatat, diperkirakan mencapai dua kali lipatnya.

Heru Joko, ketua Viking Persib club mengaku, akibat terlalu banyaknya suporter, situasi menjadi tidak terkendali. "Bobotoh kaget bisa ada kejadian gitu, sebenarnya kami sifatnya tidak begitu. Kemarin itu karena kebanyakan yang nonton, animonya besar, situasinya ada yang tak bisa dapat tiket, karena habis dan frustasi" ujar Heru.

Menurutnya ada 70.000 suporter Persib yang tercatat hingga kini, dan jumlahnya terus bertambah.

Koordinator kelompok Save Our Soccer, Akmal Marhali, menilai butuh moratorium agar semua pihak bisa belajar. Menurutnya, kelemahan sepakbola di Indonesia adalah penegakan hukumnya.

"Kehadiran Persija jelang pertandingan kemarin (23/9) dengan mobil lapis baja, sebagai simbol kekerasan di sepakbola," ungkap Akmal.

Konflik antara suporter Persib dan Persija sudah ada sejak 2003. menurut Akmal, harus ada kesepakatan tertulis yang dibuat, agar tindak kekerasan yang mengorbankan nyawa tidak terjadi.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini