nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jokowi: Kemajuan Teknologi yang Cepat Harus Diimbangi dengan Moral

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Senin 10 Desember 2018 10:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 10 337 1989072 jokowi-kemajuan-teknologi-yang-cepat-harus-diimbangi-dengan-moral-bmTjg5y5FS.jpg Presiden Jokowi buka acara Perhumas di Istana Negara. (Foto: Fakhrizal Fakhri/Okezone)

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini meresmikan pembukaan Konvensi Nasional Humas 4.0 di Istana Negara, Jakarta Pusat. Ia pun meminta Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) mampu menjawab tantangan dengan membangun reputasi lembaga humas yang baik dan tidak menyebar hoaks serta ujaran kebencian.

"Humas ini (seperti) perusahaan yang membangun reputasi tanpa memberitakan, apalagi menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian. Humasnya pemerintah, membangun trush masyarakat kepada pemerintah," ucap Jokowi, Senin (10/12/2018).

(Baca juga: Akankah Gibran Ikuti Jejak Jokowi Terjun ke Dunia Politik?)

Kepala Negara menilai peran humas sangat penting dalam Revolusi Industri 4.0 yang kecepatannya 3 ribu lebih cepat dari Revolusi Industri 1. "Kita prihatin dengan konten-konten negatif. Kabar bohong yang kita lihat. Yang jelas tidak menyampaikan etik, memang sengaja disebar membangkitkan menebar kekhawatiran dan perasaan terancam," imbuhnya.

Menurut dia, saat ini telah dibutuhkan literasi digital lantaran regulasi untuk menertibkan informasi hoaks di media sosial sudah tidak cukup.

"Warga juga harus mampu melihat informasi, mampu melakukan klarifikasi, jika menerima informasi. Sekali lagi, kemajuan teknologi yang sangat cepat harus diimbangi dengan moral," jelasnya.

(Baca juga: Foto-Foto Kehangatan Presiden Jokowi dan Keluarga saat Jalan Pagi)

Ia mengapresiasi Perhumas yang membuat tagar #IndonesiaHarusBicaraBaik. Dengan begitu, kata Jokowi, Perhumas juga mengampanyekan ajakan hijrah untuk membangkitkan optimisme dari pesimisme.

"Hijrah dari ketertinggalan ke kemauan. Bukan tidak menutup fakta, tapi kita harus jujur membenahi karena masih ada kerja yang dipercepat. Tidak bisa tidak, kalau mau Indonesia baik, kritiklah yang berbasis data. Narasi yang tidak menakut-nakuti," tandasnya.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini