nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta-Fakta Pembongkaran Makam karena Beda Pilihan Caleg, Nomor 2 Bikin Miris

Gimas Siskamayanti, Jurnalis · Senin 14 Januari 2019 14:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 14 337 2004186 fakta-fakta-pembongkaran-makam-karena-beda-pilihan-caleg-nomor-2-bikin-miris-lzv1qVtC8N.jpg Pembongkaran dua makam di Bone Bolango, Gorontalo. (Foto: Jufri Tonapa/iNews)

JAKARTA – Muncul fenomena mencengangkan ketika ada dua makam di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, dibongkar karena perbedaan pilihan dalam mendukung calon anggota legislatif (caleg) DPRD. Belakangan diketahui pemilik tanah merupakan adik ipar dari caleg DPRD Bone Bolango, Iriani Manoarfa, yang diusung Partai Nasdem. Ia marah dan meminta makam dipindahkan dikarenakan keluarga almarhum memilih mendukung caleg partai lain.

Berikut ini fakta-fakta menarik di balik aksi pembongkaran makam ini, sebagaimana Okezone rangkum, Senin (14/01/2019).

1. Diduga ada ancaman

Abdul Salam Pomontolo, keluarga almarhum, mengatakan diduga ada ancaman yakni kalau keluarga tidak memilih caleg itu maka makam silakan dibongkar dan tidak boleh ada yang bisa dikubur di sana.

"Dia bilang berulang kali, 'Kamu kalau tidak memilih Iriani, kuburan ini segara pindah dan ini saya pagar. Kalau tetap tidak mau pilih, ada lagi yang mati tidak bisa dikubur sini'," kata Abdul Salam menirukan ucapan salah satu keluarga caleg tersebut bernama Awono.

Pemerintah desa setempat telah beberapa kali coba memediasi kedua belah pihak. Namun upaya tersebut tidak berhasil, karena Awono selaku pemilik tanah bersikeras minta kedua makam tersebut dipindahkan.

2. Makam kakek dan cucu

Dua makam yang dibongkar di Dusun II adalah milik Masri Dunggio yang sudah dikubur 26 tahun lamanya. Kemudian makam Siti Aisyah Hamsah yang baru berumur satu tahun. Keduanya adalah kakek dan cucu.

Makam yang berada di belakang rumah Awono itu dibongkar dan dipindahkan oleh keluarga ahli waris setelah terjadi perselisihan dengan Awono yang sebenarnya bersepupu dengan almarhum. Prosesi pembongkaran makam pun diwarnai tangis keluarga.

3. Hubungan keluarga retak

Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU Robikin Emhas mengatakan politik yang seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia justru mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri akibat adanya peristiwa ini.

"Seakan tak peduli dampak yang ditimbulkan. Hubungan kekerabatan pecah, persahabatan retak, tetangga dikategorikan sebagai lawan. Semua disandarkan satu hal: kesamaan pilihan politik," paparnya.

Kalau tidak dihentikan, ini dapat merusak kohesivitas sosial dan harmoni masyarakat. Ujungnya, ketahanan sosial dan persatuan serta kesatuan bangsa menjadi taruhannya.

(Foto: Jufri Tonapa/iNews)

4. Tidak menghormati jenazah

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa'adi menuturkan, agama Islam mengajarkan untuk sangat menghormati jenazah sebagaimana saat orang tersebut masih hidup. Sementara makam yang berisi jenazah bisa saja dipindahkan asalkan dalam kondisi darurat atau untuk kebaikan.

"Hal ini didasarkan pada pendapat ulama Syafi’iyah yang mengatakan bahwa dalam kondisi darurat, misalnya mayat (kuburan) berada di tanah yang bukan miliknya atau bukan di TPU, maka diperbolehkan memindahkan mayat (kuburan)," terangnya.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini