Hoax ke Jokowi-Ma'ruf Amin Makin Masif, Bisa Dilawan dangan Data Keberhasilan

Fahreza Rizky, Jurnalis · Selasa 29 Januari 2019 20:34 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 29 605 2011096 hoax-ke-jokowi-ma-ruf-amin-makin-masif-bisa-dilawan-dangan-data-keberhasilan-IhSZUxzBtZ.jpg

JAKARTA - Pengamat komunikas politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing, menyebut hoax sebagai salah satu faktor penggerus elektabilitas pasangan nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, di tengah tingginya tingkat kepuasaan masyarakat terhadap Jokowi.

“Secara hipotesis iya. Itu mempengaruhi. Masyarakat termakan oleh hoax yang tersebar luas. Karena itu harus dilawan dengan fakta, data, yang didesain secara kreatif,” kata Emrus saat dihubungi di Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Berdasari hasil temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, tingkat kepuasan masyarakat Indonesia terhadap kinerja Presiden Joko Widodo masih tinggi, mencapai angka 70 persen. Meski fluktuatif, menurut survei LSI, tingkat kepuasan terhadap Jokowi tidak sampai berada di bawah 60 persen. Sementar tertinggi berada di bulan Agustus 2018, yang mencapai 75 persen lalu turun ke angka 70,7 persen di bulan September.

Kendati demikian, tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi tidak berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan (elektabilitas) Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. Merujuk sejumlah hasil survei, pasangan nomor urut 01 ini hanya berada di angkat 52-54 persen.

Emrus menjelaskan, hal ini sebagai PR besar tim kampanye Jokowi-Ma’ruf. Tim sukses dan partai pendukung harus mampu membendung hoax secara kreatif dan terukur. Tidak sebatas mengcounter informasi-informasi hoax yang beredar untuk menjatuhkan Jokowi, melainkan dengan membangun isu sendiri secara massif.

“Jadi Harus menjadi leading sector di bidang isu dan tidak terus bermain di genderang orang,” tegasnya.

Hal lain yang harus dilakukan adalah bekerja lebih keras lagi meyakinkan publik sehingga kampanye mengarah kepada perilaku memilih, tidak hanya menyukai kinerja pemerintahan Jokowi di lima tahun belakangan.

Tim kampanye termasuk partai-partai pengusung, Emrus menyarankan agar lebih keras bekerja. Jika perlu, masyarakat sendiri yang menyampaikan testimoni keberhasilan Jokowi. Tidak hanya tim kampanye yang menyampaikan dan hanya akan dianggap sebagai klaim semata.

“Pesan kampanye yang disampaikan harus berefek pada voting behavior. Mereka harus lebih agresif lagi menjelaskan keberhasilan pembangunan itu secara terukur. Desain komunikasi harus dibuat lebih rasional,” jelasnya.

Dia mencontohkan di bidang infrastruktur, tim kampanye bisa menggunakan testimony masyarakat yang secara langsung menerima manfaat ekonomi maupun non ekonomi dari adanya jalan tol atau bandara atau pembangunan lain.

Testimoni masyarakat ini juga dianggap Emrus bisa menjadi sarana untuk melawan hoax tentang ketidakberhasilan pembangunan. “Andai kata dibuat testimoni itu, bisa enggak orang jadi tidak percaya dengan hoax, misalnya bisa aja lu ngomong begitu, buktinya itu berhasil. Artinya hoax dilawan dengan testimoni atau ada desain komunikasi lain,” tutupnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini