Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Perilaku Hidup Bersih & Peka Lingkungan Efektif Cegah Demam Berdarah

Fadel Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 02 Februari 2019 |11:04 WIB
Perilaku Hidup Bersih & Peka Lingkungan Efektif Cegah Demam Berdarah
ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)
A
A
A

MEMASUKI musim penghujan, penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) jumlahnya cukup tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat pada Januari 2019, sebanyak 813 masyarakat Ibu Kota harus terbaring di rumah sakit lantaran terjangkit DBD.

Bila dibanding bulan yang sama pada 2018 lalu, maka jumlah pasien DBD di 2019 mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Pada tahun lalu, angka penderita DBD tercatat hanya 198 orang. Bila dikalkulasi, maka terhitung ada kenaikan sebanyak empat kali lipat di tahun ini.

Curah hujan tinggi pada awal 2019 mengakibatkan kasus DBD di Ibu Kota meningkat. Lalu, masih banyaknya masyarakat yang kurang peka terhadap lingkungan sekitar membuat nyamuk aedes aegypti bebas berkembang biak di sana.

"Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kondisi iklim. Iklim berperan dalam memberikan lingkungan yang kondusif untuk nyamuk berkembang," kata Kepala Seksi Penyakit Menular, Tular Vektor dan Zoonotik Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Jakarta, Inda Mutiara kepada Okezone, Jumat, 1 Februari 2019 kemarin.Data Penderita DBD

Dari enam wilayah di Ibu Kota, lanjut Inda, Jakarta Selatan menjadi wilayah yang warganya paling banyak menderita DBD. Ada sekira 277 orang yang harus berhadapan dengan penyakit mematikan tersebut. Sedangkan wilayah yang terbebas dari DBD, yakni Kepulauan Seribu. Hal tersebut karena nyamuk aedes aegypti hanya suka hidup di tempat yang lembab.

"Jakarta Pusat 39 orang, Jakarta Utara 51 orang, Jakarta Barat 220 orang, Jakarta Timur 226 orang, Kepulauan Seribu nihil," ujarnya.

Setelah Maret, kata dia, fenomena DBD akan cenderung turun. Sebab, berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada bulan itu curah hujan mulai mengalami penurunan.

"Kalau kita lihat prediksi BMKG, cuaca ini (hujan) sampai dengan bulan Maret. Kita berharap ini tidak berjalan selaras dengan kasus (DBD)," tutur Inda.

Infografis Lipsus DBD

Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi kasus DBD di Jakarta. Salah satu langkah yang digalakkan adalah melakukan peningkatan program pemberantasan sarang nyamuk dan menguras, menutup, mendaur ulang (PSN 3M) di daerah-daerah yang terbilang lembab.

"PSN 3M itu bisa seminggu tiga kali. Tidak hanya hari Jumat saja. Pelaksanaan PSN dengan metoda Self Jumantik telah dilaksanakan sejak tahun 2010 di DKI Jakarta, yang sekarang menjadi program nasional dengan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik," kata dia.

Selanjutnya lanjut Inda, melakukan pemeriksaan jentik oleh juru pemantau jentik (jumantik) minimal seminggu sekali di perumahan, tempat ibadah, sekolah dan fasilitas umum yang rutin dilaksanakan setiap hari Jumat.

Namun, usaha itu akan menjadi sia-sia bila masyarakat tidak peka dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga, untuk memberantas DBD dibutuhkan usaha dari pemerintah dan kepedulian seseorang untuk terbiasa dengan pola hidup yang bersih. "Ya, intinya selain faktor lingkungan, tentunya perilaku manusia sangat berpengaruh," ujarnya.

(Rizka Diputra)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement