nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Buntut Penembakan Pekerja di Nduga, 2.000 Orang Mengungsi ke Wamena Papua

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Sabtu 02 Maret 2019 05:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 02 337 2024780 buntut-penembakan-pekerja-di-nduga-2-000-orang-mengungsi-ke-wamena-papua-6ynZIJ7m1x.jpg Anak-anak pengungsi dari Nduga belajar di sekolah darurat yang dibangun LSM di Wamena, Papua (AFP/Getty Images)

SEKITAR 2 ribu warga dari sejumlah distrik di Kabupaten Nduga, Papua, mengungsi ke Kabupaten Wamena karena khawatir menjadi korban kontak senjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNB-OPM) dengan aparat keamanan.

Sekretaris Eksekutif dari Yayasan Teratai Hati Papua yang mendampingi pengungsi, Ence Geong, menyebut para pengungsi itu berasal dari Distrik Mbua, Yal, Yigi, Mapenduma, Nikuri, dan Mbulmu Yalma. Sebanyak 610 di antaranya merupakan pelajar.

Ence berkata, para pengungsi berdatangan sejak 4 Desember 2018 atau persis setelah diberlakukan operasi militer pasca insiden pembunuhan terhadap karyawan PT Istaka Karya.

"Pengungsi itu ada yang orang tua bersama anak mereka, tapi ada juga anaknya saja sedangkan orang tuanya masih bersembunyi di hutan. Karena tidak ada jaminan (mengungsi) ke Wamena untuk bertahan hidup," ujar Ence Geong kepada BBC News Indonesia, Jumat (01/3/2019).

"Sehingga mereka memilih bertahan hidup di hutan supaya dekat dengan sumber makanan, kebun mereka sendiri," sambungnya.

Para pengungsi, kata Ence, kini tinggal di rumah-rumah sanak keluarga mereka tapi kebutuhan sehari-hari tidak mencukupi. Dalam catatannya sepanjang Januari hingga Februari, empat orang meninggal dunia karena sakit.

"Sekarang sudah masuk bulan ketiga mengungsi dan kebutuhan dasar seperti makan dan minum paling sengsara. Pengakuan anak-anak itu, ada yang makan sehari sekali, ada yang dua hari sekali, sampai ada yang pingsan saat belajar," jelas Ence.

Khusus untuk anak-anak pengungsi, kata Ence, pihaknya telah mendirikan sekolah darurat yang terbuat dari bangunan semi permanen di halaman gereja. Total ada 13 ruangan dipakai untuk Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Proses belajar, baru dimulai pada akhir Januari.

"Kalau guru tidak ada masalah, banyak."

Anak-anak mengungsi dari Nduga untuk menghindari kontak senjata OPM dan aparat keamanan (AFP/Getty Images)

Namun demikian, anak-anak masih mengalami trauma jika melihat tentara berseragam lantaran saat operasi militer awal Desember lalu, dua siswa SMP dilaporkan terkena tembakan aparat.

"Ketika sekolah didatangi tentara, anak-anak lari. Jadi ya kita membatasi aparat berseragam tidak boleh masuk ke komplek sekolah."

Operasi militer tanpa batas waktu

Kontak senjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Egainus Kogoya dan aparat di Distrik Yal, Kabupaten Nduga, kembali terjadi pada Selasa 26 Februari 2019.

Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, mengatakan serangan yang dipimpin Egianus Kogoya mengenai personel TNI-Polri. Tapi ia belum mengetahui berapa jumlah aparat yang terluka. Sementara dari pihaknya, klaim Sebby, tidak ada yang menjadi korban.

"Serangan TPNPB tidak pernah berhenti, selalu terjadi kapan saja, di mana saja di wilayah perang," ujar Sebby Sambom kepada BBC News Indonesia.

"Kami curigai TNI-Polri tak akui anggota jadi kena tembak, supaya anggotanya tidak ketakutan ke sana. Meski Indonesia punya kekuatan militer tapi tidak mungkin melawan kami. Kami tahu medan," sambungnya.

Sebby berkata, pihaknya tidak akan melakukan gencatan senjata meski masyarakat setempat mengungsi karena ketakutan. Menurutnya, resiko tersebut harus terjadi demi memperoleh hak kemerdekaan.

"Masalah Papua bukan urusan TNI-Polri, tapi urusan politik hak penentuan nasib sendiri. Kami punya hak untuk merdeka, oleh karena itu urusan kami dengan presiden RI," tukasnya.

"Karena Indonesia kepala batu, tidak mau kasih kemerdekaan bagi Papua Barat."

Pemerintah Indonesia menyatakan Papua merupakan bagian sah dari wilayah Indonesia, dan sejak 2002 telah menerapkan kebijakan otonomi khusus untuk meredam tuntutan pemisahan diri dari Indonesia. Di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, pemerintah juga menggenjot pembangunan infrastruktur untuk memajukan perekonomian di provinsi itu.

Kapendam XVII/Cendrawasih, Muhammad Aidi, menyebut kontak senjata terjadi di dekat pos penjagaan Polri sehingga ia belum bisa memastikan apakah ada anggota polisi yang terkena tembakan atau tidak.

"Anggota kami di pos bilang terdengar tembakan dua kali lalu eskavator milik PT Istaka Karya dibakar. Tapi eskavator itu sudah lama rusak dan memang tidak dijaga," ujar Muhammad Aidi kepada BBC News Indonesia.

Kendati demikian, ia mengklaim kondisi di Nduga sudah kembali aman dan sejumlah warga yang sempat mengungsi ke hutan sudah kembali ke rumah.

Lebih jauh ia menyebut, TNI-Polri akan terus melakukan operasi militer tanpa batas waktu dan akan menangkap seluruh anggota TPNPB pimpinan Egianus Kogoya dalam kondisi hidup atau mati. Hingga kini belum ada satupun yang berhasil ditangkap atas kasus pembunuhan karyawan PT Istaka Karya.

"Sampai sekarang kita belum intensif untuk pengejaran tapi melakukan pengamanan, karena kita fokus terhadap perlindungan warga dan pengungsi," katanya.

Menurutnya, kondisi kelompok TPNPB sudah terjepit karena kekurangan logistik makanan. Apalagi hampir seluruh kampung di Kabupaten Nduga, sudah dikuasai TNI.

"Kita identifikasi kondisi mereka saat ini terjepit karena semua kampung sudah diduduki oleh aparat keamanan."

'Tak bisa bedakan warga dan anggota TPNPB'

Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hasegem, meminta pemerintah pusat turun tangan dengan menarik seluruh aparat keamanan dari kampung-kampung di Kabupaten Nduga. Dengan begitu, ribuan warga yang mengungsi bisa kembali ke rumah.

Dari pantauannya ke Distrik Mapenduma, seluruh penduduknya mengungsi ke Wamena.

"Kalau TNI dan OPM masih terus perang, mereka bisa jadi korban. Dua pihak itu kan pegang senjata. Jadi dikatakan 'kami bisa terjebak menjadi korban'," ujar Theo Hasegem kepada BBC News Indonesia.

"Kalau mereka sudah mundur, tidak perang, kami baru akan masuk (pulang ke kampung). Selagi masih ada TNI, kami tidak akan."

Kata Theo, masyarakat terpaksa mengungsi karena khawatir jadi korban salah tembak sebab aparat sulit membedakan anggota TPNPB dengan warga setempat.

"Susahnya masyarakat di sana itu, TNI tidak bisa bedakan siapa itu TPNPB, masyarakat sama semua. Ini bisa memakan korban."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini