nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bengkulu Dihantui Gempa Dahsyat, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah dan Masyarakat?

Demon Fajri, Jurnalis · Minggu 05 Mei 2019 12:27 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 05 340 2051717 bengkulu-dihantui-gempa-dahsyat-apa-yang-harus-dilakukan-pemerintah-dan-masyarakat-fwugwLSnkX.jpg

BENGKULU - Pasca kejadian tsunami dahsyat melanda Jepang, Jumat 11 Maret 2011, para praktisi kebencanaan asal Indonesia yang sedang belajar di Jepang menerbitkan buku ''Belajar Dari Bencana Jepang''.

Sembilan praktisi ini menyampaikan kajian lengkap tentang kondisi bencana, kerugian, sistem mitigasi, cara pemulihan dan cara Jepang merespons kejadian bencana. Tidak hanya itu, tim itu juga membuat rekomendasi untuk Indonesia sebagai bahan pembelajaran dari kejadian tsunami Jepang.

PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah mengatakan, dalam kajian ini menyebutkan beberapa wilayah pesisir di Indonesia yang ''mendesak'' untuk mendapat perhatian khusus, bidang mitigasi. Hal tersebut karena tingginya risiko ancaman bahaya serupa, yakni, gempa bumi dan gelombang tsunami.

 Baca juga: Gempa M 5,3 Guncang Bengkulu, 5 Kabupaten/Kota Rasakan Getarannya

Wilayah itu, kata Sabar, areal industri sepanjang pantai barat dan selatan Jawa, Kota Padang, provinsi Sumatera Barat. Tak terkecuali kawasan Kota Bengkulu provinsi Bengkulu sebagai salah satu kawasan tinggi risiko gempa dan tsunami.

''Bengkulu dituntut mendapat perhatian serius terkait upaya pengurangan risiko bencana gempa dan tsunami,'' kata Sabar, Minggu (5/5/2019).

 Gempa

Estimasi Gelombang Tsunami

Sabar mengatakan, dengan cara memasukan parameter gempa bumi berkekuatan M=8,5, kedalaman dangkal serta terjadi deformasi vertikal pada wilayah megathrust Bengkulu, waktu kedatangan serta ketinggian maksimum gelombang tsunami dapat diperkirakan.

 Baca juga: Bengkulu Diguncang Gempa 5,5 SR

Input parameter gempa yang digunakan berdasarkan sejarah gempa yang pernah terjadi serta potensi kekuatan maksimum yang ada pada megathrust segmen Enggano, pulau Enggano kecamatan Enggano kabupaten Bengkulu Utara.

Berdasarkan simulasi yang dijalankan menggunakan sistem Tsunami Observation and Simulation Terminal (TOAST), jelas Sabar, estimasi waktu kedatangan gelombang tsunami di pulau Enggano kecamatan Enggano kabupaten Bengkulu Utara, datang dalam waktu kurang lebih 20 menit setelah kejadian gempa bumi.

Sementara estimasi ketinggian gelombang tsunami, sampai Sabar, maksimumnya mencapai 14 meter. Lalu, untuk wilayah di sekitar pantai pesisir Kota Bengkulu, estimasi waktu kedatangan gelombang tsunami setelah gempa diperkirakan kurang lebih 50 menit. Perkiraan ketinggian tsunami maksimum di wilayah ini mencapai 6,5 meter.

 Baca juga: Mentawai & Bengkulu Diguncang 6 Kali Gempa

''Estimasi waktu elatif lama sampai di wilayah kabupaten Mukomuko. Diperkirakan berkisar 60 menit setelah kejadian gempa, dengan perkiraan ketinggian tsunami maksimum berkisar 5 meter,'' terang Sabar.

Mitigasi Tsunami, Bangun Tanggul dan Lestarikan Tembok Alami Mangrove

Lantas sistem mitigasi tsunami seperti apa yang paling cocok untuk wilayah Bengkulu? Sabar mengatakan, mitigasi atau pengurangan risiko bencana memiliki dua jenis. Yakni, mitigasi secara struktural dan non struktural.

Dalam konteks tsunami, kata Sabar, mitigasi struktur merupakan upaya membangun tembok penahan gelombang atau tanggul, membangun pemecah ombak atau break water, membangun shelter tempat pengungsian sementara dan lain-lain.

''Ada juga mitigasi struktur secara alami, yaitu melestarikan tumbuhan pantai sebagai penahan ombak atau pemecah energi gelombang tsunami. Tumbuhan pantai ini antara lain pohon bakau, hutan mangrove, pinus, kelapa dan lain-lain,'' jelas Sabar. 

Baca juga:  Selang 2,5 Jam, Bengkulu Diguncang 2 Kali Gempa

Sedangkan mitigasi yang berhubungan dengan non struktur, sambung Sabar, dengan mengadakan pelatihan dan sosialisasi pada masyarakat pesisir pantai. Lalu, melakukan simulasi (drill), membuat peta kawasan rawan tsunami, membuat peta jalur evakuasi, mengeluarkan kebijakan terkait pembangunan di wilayah pesisir.

Sabar menjelaskan, penerapan mitigasi baik secara struktur maupun nonstruktur harus disesuaikan dengan karakter wilayah masing-masing. Sabar mencontohkan, untuk kawasan di pulau Enggano, shelter tempat evakuasi sangat diperlukan.

Dalam waktu yang singkat dan potensi gelombang tsunami yang tinggi, masyarakat di pulau Enggano kecamatan Enggano kabupaten Bengkulu Utara, memerlukan tempat berlindung yang aman, kokoh dan mudah dijangkau.

 Baca juga: Bengkulu Diguncang Gempa 5,7 SR

''Shelter yang dibangun setidaknya memiliki ketinggian 20 meter karena berdasarkan simulasi, potensi tinggi gelombang tsunami mencapai 14 meter,'' ujar Sabar.

Berbeda dengan daerah kawasan pantai Kota Bengkulu, lanjut Sabar, di daerah ini potensi gelombang tsunami kurang dari 10 meter. Ada dua cara yang bisa diterapkan dalam membangun mitigasi struktur. Seperti membangun tembok penahan gelombang (tanggul) atau melestarikan tembok alami. Yaitu, tumbuhan pantai sebagai pemecah energi gelombang tsunami.

 Gempa

Namun, kata Sabar, pilihan pertama membangun tembok penahan gelombang merupakan pilihan yang memiliki risiko biaya yang sangat mahal. Selain itu, semakin tua usianya maka kemampuan tembok akan semakin rentan mengalami kerusakan. Berbeda dengan hutan mangrove. Selain biaya yang murah, semakin tua usianya, maka kemampuan akarnya menahan gelombang akan semakin kuat.

 Baca juga: Usai Azan Magrib, Mukomuko Diguncang Gempa 3,2 SR

''Manfaat mangrove juga berfungsi sebagai habitat biota laut juga sebagai penahan abrasi dan erosi,'' jelas Sabar.

Sabar mengatakan, peneliti Geofisika Kelautan LIPI Nugroho Dwi Hananto mengungkapkan, mangrove dapat dimanfaatkan untuk menghadang atau setidaknya meredam gelombang laut. Seperti, gelombang tsunami. Sebab, dengan akar tunjangnya yang tumbuh rapat dan melebar, mangrove akan bekerja seperti jaring.

Tsunami Tohoku, Jepang 2011, sampai Sabar, menjadi pelajaran penting. Mitigasi menggunakan tembok (tanggul) tidak sepenuhnya aman. Di mana tanggul yang dibangun setinggi 10 meter, tidak mampu menahan gelombang tsunami Jepang, pada 2011. Sedangkan kasus tsunami Donggala, pada 2018, kelurahan Kabonga Besar Kecamatan Banawa Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah, berhasil selamat dari amukan tsunami berkat hutan Banggo.

 Baca juga: Bengkulu Diguncang Gempa 5,5 SR

Banggo, kata Sabar, merupakan sebutan sehari-hari untuk mangrove masyarakat di Kabonga Besar. Di area poros Palu-Donggala, jelas Sabar, ada kawasan hutan mangrove Gonenggati. Di mana lebih kurang 20 tahun terakhir masyarakat setempat merawatnya, dengan total luas areanya sekira 10 hektare (Ha).

''Batang-batang pohonnya tumbuh rapat setinggi lebih dari lima meter, dengan akar-akar yang menghujam kuat. Kabonga Besar terhindar dari petaka saat tsunami menerjang,'' jelas Sabar.

Di Donggala, terang Sabar, data korban terbilang kecil. Di mana 10 rumah rusak dan seorang anak meninggal dunia. Kondisi berbeda terjadi di pesisir Kota Palu, yang tak memiliki hutan mangrove atau vegetasi pantai lain. Sebab, di Palu, sejauh mata memandang hanya tampak puing bangunan. Sehingga korban hilang dan meninggal karena tsunami mencapai 1.204 jiwa.

''Banyak manfaat mangrove, tetap ada kelemahan untuk gelombang tsunami lebih dari 10 meter. Mangrove memiliki ketinggian terbatas berkisar 5 hingga 6 meter. Sehingga untuk gelombang tsunami dengan ketinggian lebih dari 10 meter mangrove tidak mampu meredam secara signifikan,'' beber Sabar.

Evakuasi Mandiri, Kenali, Kuasai Jalur Evakuasi

Dalam simulasi ini masyarakat memiliki waktu antara 20 hingga 60 menit untuk menyelamatkan diri. Namun, kata Sabar, kasus tsunami Palu cukup menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat. Di mana hanya dalam waktu kurang dari 5 menit setelah gempa M=7,4, tsunami melanda pesisir pantai.

Artinya, tegas Sabar, kemungkinan terburuk tetap ada. Kesadaran evakuasi secara mandiri harus terus ditanamkan di dalam diri masyarakat saat menghadapi situasi sebenarnya. Evakuasi mandiri, jelas Sabar, masyarakat segera mengambil tindakan ke tempat yang lebih tinggi setelah merasakan guncangan gempa kuat dan durasi cukup lama atau berkisar 20 detik.

Jika berada di pesisir pantai dan merasakan guncangan gempa kuat, terang Sabar, tanpa harus menunggu peringatan resmi dari pemerintah segera mengambil tindakan penyelamatan diri ke wilayah yang lebih tinggi.

Kawasan ''Hotel Grage'' di Kota Bengkulu, sampai Sabar, merupakan tempat yang relatif tinggi untuk berlindung dari gelombang tsunami, jika masyarakat berada di sekitar wilayah Sport Center dan Pantai Panjang.

Begitu juga daerah ''Benteng Marlborough'' Kota Bengkulu, kawasan yang bisa dijadikan wilayah evakuasi cukup aman. Selain itu, daerah ''Universitas Bengkulu'' juga merupakan wilayah yang cukup tinggi, sehingga aman untuk dijadikan tempat evakuasi.

Sabar menyampaikan, menjadi sangat penting untuk mengenali, menguasai jalur evakuasi dan daerah-daerah yang aman untuk dijadikan tempat berkumpul, saat potensi tsunami terjadi. Sebab, banyak korban terjadi karena minimnya pengetahuan dan tidak menguasi jalur evakuasi serta titik berkumpul.

''Begitu juga sebaliknya, banyak korban yang selamat karena memiliki kesadaran segera mengambil tindakan evakuasi mandiri serta menguasai jalur evakuasi dan tempat aman untuk penyelamatan,'' demikian Sabar.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini