"Selain itu, bisa jadi faktor puskesmas terlambat merujuk pasien, ataupun penanganan rumah sakitnya, atau bisa juga kebijakan penggunaan BPJS Kesehatan," kata Djaswadi.

Pihaknya mengaku prihatin dengan masih adanya penderita demam berdarah di Ngawi yang meninggal dunia. Sebab, kata dia, sejatinya demam berdarah bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
Hanya saja, kata dia, nyawa menjadi taruhannya jika pasien tidak segera mendapat penanganan medis. Untuk itu, pihaknya terus berusaha melakukan pengendalian dan pencegahan wabah demam berdarah di Ngawi, di antaranya dengan dibentuk para kader juru pemantau jentik (jumantik), di mana satu rumah satu jumantik.
Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi juga gencar melakukan sosialisasi tentang pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta pengasapan untuk membasmi nyamuk dewasa.