Para Pencari Tuhan di Pesantren Waria Yogyakarta yang Sempat Ditutup

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 03 Juni 2019 23:06 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 03 510 2063425 para-pencari-tuhan-di-pesantren-waria-yogyakarta-yang-sempat-ditutup-Q5JegASZd9.jpg Pesantren Waria di Yogyakarta (Foto: BBC Indonesia)

SAYUP-sayup lantunan ayat Alquran terdengar dari sebuah gang kecil di Banguntapan, Yogyakarta. Padahal di gang tersebut tidak terlihat bangunan mushala ataupun langgar, tempat orang biasa mengaji.

Suara tersebut semakin keras terdengar dari bangunan rumah joglo bercat hijau dan putih. Tulisan kecil di salah satu dindingnya terbaca: Pondok Pesantren Waria Al-Fatah.

Di bulan Ramadan ini, aktivitas di pondok pesantren tersebut kembali menggeliat.

Para santri, yang seluruhnya adalah kaum transgender, terlihat berkumpul di beranda. Mereka belajar ilmu agama dan mengaji, mulai sore sampai menjelang waktu berbuka puasa.

Tidak hanya mereka yang sudah pandai mengaji, para santri yang belum bisa membaca Alquran pun ikut berkumpul, duduk melingkar di dalam pesantren. Mereka bersama-sama membaca Iqra dan hafalan ayat-ayat pendek Alquran.

Ada tiga guru mengaji di pesantren Al-Fatah, Ustaz Arif Nur Safri, Ustaz Idlofi dan Sholihul Amin Al Ma'mun.

"Jadi mulai Ashar-Magrib kami belajar Alquran. Ada yang masih Iqra dan hafalan-hafalan surat pendek, mereka dibimbing teman-teman mahasiswa," kata Ustaz Arif.

Pesantren waria di Yogya (Foto: BBC Indonesia)

Melati Tia, salah satu santri senior di pesantren waria tersebut, terlihat begitu khusyuk membaca juz 16, QS Maryam di hadapan Ustaz Arif. Sesekali, sang guru mengaji membetulkan bacaan Melati.

Tak terasa, Melati telah membaca 25 ayat dari surah Maryam.

"Alhamdulillah, saya membaca surah Maryam ayat 1 sampai 25," kata Melati, sambil mencatat bacaan yang baru saja dia rampungkan.

Usai Melati, santri-santri lain bergantian membaca Al-Quran di depan Ustaz Arif, termasuk juga Shinta Ratri, pemimpin Pondok Pesantren Waria Al Fatah.

"Ramadan ini, alhamdulillah, kami bisa mengaji dan beribadah secara nyaman dan khusuk," katanya, kepada Yaya Ulya, wartawan di Yogyakarta yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Ucapan Shinta tersebut merujuk pada kejadian tahun 2016, saat pesantren tersebut ditutup oleh aparat pemerintah setempat karena dianggap tidak berizin dan meresahkan warga setempat.

Waktu itu, Camat Banguntapan, Jati Bayubroto, menyebut bahwa pesantren itu ditutup karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islami. "Pernah didapati ada miras dan itu menjadi salah satu alasan keberatan warga," sebutnya.

Penutupan tersebut sempat dipertanyakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, yang menilai hal itu sebagai bentuk penghakiman secara sepihak.

Perlahan bangkit

Sejak ditutup pada 2016, pondok pesantren Al-Fatah perlahan bangkit. Mereka kembali memulai seperti awalnya pesantren tersebut didirikan, dengan menggelar pengajian setiap minggu.

Kini, tidak hanya pengajian, pesantren tersebut juga menyediakan pelatihan keterampilan bagi para waria, terutama yang berprofesi sebagai pekerja seks, untuk memperbaiki kesejahteraan mereka.

Pesantren tersebut berawal ketika waria di Yogyakarta mengadakan pengajian untuk mendoakan korban gempa bumi tahun 2006. Pengajian tersebut berlanjut menjadi pengajian rutin setiap minggu, sehingga berdirilah pesantren Al-Fatah.

Saat itu, lokasinya berada di Notoyudan, Kota Yogyakarta. Maryani, pendiri pesantren, berpandangan bahwa hak beragama adalah milik setiap manusia, termasuk waria.

Setelah Maryani meninggal dunia pada 2014, ponpes ini sempat vakum. Atas kesepakatan bersama, Shinta Ratri meneruskan keberadaan pesantren tersebut dan memindah lokasinya ke rumahnya di Banguntapan, Bantul, DIY.

Para santri pun bisa kembali melanjutkan belajar membaca Alquran dan memperbanyak ibadah.

Ketika pesantren ditutup, banyak santri yang merasa kehilangan dan kebingungan untuk beribadah dengan aman.

Beberapa santri mengaku tidak nyaman beribadah di masjid karena masih ada orang yang merasa risih dengan keberadaan waria.

"Padahal waria juga manusia yang ingin ibadah dengan nyaman," kata Melati Tia, yang ketika mengaji atau salat, memilih memakai sarung dan berpeci.

"Menjadi waria itu pahit, banyak diskriminasi. Mau berbuat baik saja harus pikir-pikir, diterima atau tidak. Jadi bukan maunya kita menjadi waria. Inilah kami, dan kami punya hak juga untuk beribadah," tambah Shinta, sambil membetulkan letak kerudungnya.

Sekarang, Shinta dan para santri bersyukur, mereka bisa kembali beribadah, terutama di bulan Ramadan.

"Alhamdulillah sekarang sudah aman dan kembali bisa beribadah seperti semula," ujar Shinta.

Pesantren waria di Yogya (Foto: BBC Indonesia)

Mencari Tuhan

Keberadaan Pesantren Waria Al-Fatah menjadi oase bagi komunitas transgender di Yogyakarta. Mereka mengaku bisa beribadah dengan tenang dan nyaman tanpa gangguan.

Bahkan tahun ini, santri pesantren semakin bertambah jika dibandingkan dengan Ramadan sebelumnya.

"Tadinya cuma sedikit, paling yang datang sekitar 6-7 orang. Sekarang cukup banyak," papar Melati, yang lebih akrab disapa Bunda.

Salah satu santri waria yang baru bergabung adalah Nia. Dia mengaku sudah lama mengetahui keberadaan pesantren tersebut, namun belum pernah ikut mengaji dan beribadah.

"Saya baru datang mengaji hari ini. Kemarin-kemarin belum ikut. Tapi hari ini tergerak hati saya ingin bisa baca Alquran dan mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa," sebut Nia.

Sebelumnya, Nia mengaku kerap mendapat perlakuan diskriminatif saat hendak beribadah di tempat lain. "Tapi di sini saya bisa salat, membaca Alquran dengan nyaman dan ada kiai yang membimbing," tambahnya.

Sebagai waria yang berprofesi sebagai pekerja seks, Nia mengaku keberadaan pesantren Al-Fatah sangat positif, karena bisa membantu komunitas transgender untuk belajar agama dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

"Dulu saya tak bisa baca Alquran dan jarang salat. Di sini saya bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta," kata Nia.

Kehadiran para santri baru ini disambut baik oleh Ustaz Arif.

"Nah ini, bersyukurlah ada pesantren waria yang memberikan ruang bagi mereka beribadah. Karena siapa pun berhak beragama dan menghadap kepada Tuhan yang diyakininya," katanya.

"Dalam konstitusi juga melindungi kita untuk memeluk agama yang kita yakini dan beribadah sesuai agamanya masing-masing," imbuhnya.

Pesantren warian di Yogya (Foto: BBC Indonesia)

Shinta senang melihat semakin banyak transgender muda ikut beribadah di pesantren Al-Fatah.

Itu memang harapannya agar waria tidak hanya memikirkan urusan duniawi tapi melupakan ibadah. Menurutnya, bekal spiritual dengan beribadah penting untuk membangun semangat hidup agar tidak putus asa dalam menghadapi segala cobaan.

"Entah itu diskriminasi dan tekanan apa saja, bekal spiritual mampu membuat manusia nyaman hidup di dunia, bermasyarakat dan berketuhanan," kata Shinta.

"Semoga komunitas waria semakin banyak yang sadar akan pentingnya ibadah. Dan semoga pesantren waria ini bisa terus berjalan."

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini