Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Bir Ali dan Sejarah Panjang Cikini

Fiddy Anggriawan , Jurnalis-Kamis, 06 Juni 2019 |14:02 WIB
Kisah Bir Ali dan Sejarah Panjang Cikini
Kawasan Stasiun Cikini Jakarta Pusat (foto: Fakhrizal Fakhri/Okezone)
A
A
A

WARGA Jakarta tentu sangat familiar dengan kawasan Cikini. Sebuah jalan yang terletak di kawasan Jakarta Pusat tersebut ternyata memiliki sejarah yang panjang.

Cikini merupakan salah satu kampung tua di Jakarta. Sampai akhir 1960-an, terdapat kebun binatang di kawasan Cikini yang menjadi salah satu tempat rekreasi di Jakarta saat itu.

Baca Juga: Asal Usul Nama Tanjung Priok yang Menjadi Pelabuhan Terbesar di Indonesia 

Di kebun binatang ini, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kemudian membangun Taman Ismail Marzuki (TIM). Ia pun menggusur Bioskop Garden Hall, bioskop kelas satu di Jakarta kala itu.

Intip Persiapan Petugas Menyaksikan Gerhana Bulan Total di Taman Ismail Marzuki

Cikini tempo doeloe banyak terdapat perkampungan Betawi. Salah satunya adalah Cikini Kecil yang sekarang lokasinya berada di belakang Hotel Sofyan Cikini. Namun, kini kampung tersebut sudah tak tersisa, seperti banyak kampung lain di Jakarta.

Disebut Cikini Kecil karena arealnya yang tidak begitu luas. Di pemukiman Betawi ini dahulu terdapat sebuah makam keramat.

Dilansir Buku Ensiklopedia Jakarta, Amarullah, orang yang banyak tahu soal Cikini, menceritakan tokoh yang sangat terkenal di Cikini Kecil sampai dengan tahun 1960-an adalah Bir Ali. Nama Sesungguhnya Muhammad Ali. Disebut demikian karena ia suka minum bir.

Bir Ali yang merupakan mantan militer ini pernah malang melintang di dunia kejahatan. Dia pernah menembak mati Kun Utoyo. Korban dibunuh saat hendak membonceng istri Bir Ali.

Bir Ali juga pernah menembak mati Ali Badjened, seorang kaya raya di Jakarta. Konon, bersama Kusni Kasdut, dia juga pernah terlibat perampokan emas di Museum Nasional pada pertengahan tahun 1950-an.

Ketika ditahan di LP Cipinang, dia mengajar ngaji para napi lainnya. Menurut seorang kenalan dekatnya, Bir Ali juga pernah memadamkan pemberontakan para napi di LP Cipinang.

Amarullah sendiri ketika kecil tinggal di Tepi Ciliwung di Kampung Cikini Binatu (kini Jl. Raden Saleh II) Disebut demikian, karena di situ banyak tinggal tukang binatu yang memanfaatkan kali Ciliwung yang kala itu masih jernih airnya. Langganan mereka adalah tuan dan nyonya Belanda yang tinggal di Cikini. Di sini juga banyak tinggal tukang delman (sado).

"Saya sendiri dari keluarga tukang delman," ujarnya.

Kala itu, Kampung Cikini yang kini kumuh banyak terdapat lapangan tempat kandang kuda. Kuda-kuda oleh tukang delman di Cikini juga dimandikan di Ciliwung. Dahulu, di belakang Pasar Cikini yang megah depan stasiun kereta api Cikini, ada kampung Cikini Kramat Kamboja.

Pasar Cikini Ampiun (foto: Instagram/@hebertkostan)

Kampung yang juga dikenal sebagai Gang Ampiun ini dilintasi kereta api barang yang mangkal di Gang Kenari (samping FK UI). Yang masih menjadi peninggalan tempo dulu di sini adalah para pedagang yang mangkal berjejer hingga Stasiun Cikini. Para tukang kembang di Pasar Cikini sudah merupakan generasi turun temurun sejak buyut mereka.

Sampai dengan tahun 1970-an, di sini tinggal H Asnawi, ahli pengobatan tulang yang oleh orang Jakarta di sebut sangkal putung atau dukun patah. Entah berapa ribu penderita patah tulang yang telah ditolongnya.

Di kampung ini juga tinggal perintis musik dangdut (dulu bernama orkes Melayu) dari keluarga Harris. Seperti, A Harris dan Bahfen Harris. A Harris yang terkenal dengan lagu Kudaku Lari pernah kawin dengan bintang film Malaysia, Rodiah, janda penyanyi dan aktor P Ramlee, bintang legendaris Malaysia.

RS PGI Cikini (foto: Instagram/@lyaleaa)	 

Di Jalan Raya Raden Saleh terdapat RS DGI Cikini yang dulunya merupakan rumah pelukis kelahiran Terboyo (Semarang), Raden Saleh Sjarif Bustaman (1808-1870). Di jalan ini ada sebuah poliklinik yang pernah dihebohkan sebagai tempat praktik aborsi ilegal. Entah sudah berapa ribu janin dibunuh di poliklinik ini, yang terbanyak akibat hamil di luar nikah.

Restoran Oasis yang terdapat di jalan ini masih tampak megah hingga kini. Gedung ini dibangun awal abad ke-20 oleh seorang baron Belanda yang pada tahun 1940 ditangkap atas tuduhan menjadi kaki tangan Jerman. Restoran ini dihiasi dengan banyak lukisan, patung dan permadani yang sangat mahal. Tidak ketinggalan sejumlah barang antik dari Prancis, Jerman, dan Belanda menjadi koleksi gedung tua ini.

Baca Juga: Asal Muasal Nama Ragunan yang Kini Jadi Kebun Binatang 

Restoran Oasis (foto: Instagram/@helenanlohy)

Sesudah tahun 1940, gedung Oasis itu berturut-turut digunakan sebagai tempat tinggal gubernur jenderal Belanda (yakni sebagai tempat persembunyian mereka ketika tentara Jepang sudah berada di ambang pintu masuk ke Indonesia).

Setelah kemenangan Jepang, Oasis sempat dijadikan sebagai tempat tinggal para opsir tinggi tentara Jepang. Sesudah Perang Dunia II gedung itu menjadi tempat tinggal pejabat perwakilan Angkatan Laut AS yang bergabung dalam tentara Sekutu. Ketika masih menjabat Menristek dan Ketua BPPT, BJ Habibie sering menjamu tamu-tamu asingnya di tempat ini.

Di Cikini juga terdapat Masjid Jami Cikini yang dibangun oleh Raden Saleh. Masjid ini usianya sudah lebih dari satu abad. Dahulu masjid ini menjadi tempat mengajar Habib Salim Bin Djindan dan Habib Alwi Djamalullail. Keduanya dikenal sebagai dai vokal dan seringkali tanpa tedeng aling-aling (basa-basi) melontarkan kritik pada pemerintah kolonial Belanda.

Beberapa kali mereka dijebloskan ke dalam penjara baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga pemerintahan Soeharto.

Masjid Jami Cikini (foto: Instagram/@darulaqsha)

(Fiddy Anggriawan )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement