nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Kampung Bandan: Dulu Penampungan Budak hingga Masjid Tua Al Mukarromah

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Sabtu 08 Juni 2019 13:14 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 08 338 2064486 cerita-kampung-bandan-dulu-penampungan-budak-hingga-masjid-tua-al-mukarromah-uFnGMa1jtR.jpg Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara. Foto: Okezone/Rachmat Fahzry

KETIKA Jan Pieterszoon Coen—penakluk Batavia—menaklukkan Pulau Banda, Maluku pada 1621 terjadi pembantaian oleh pemimpin VOC itu, sementara orang Pulau Banda yang selamat dibawa ke Batavia untuk dijadikan budak.

Itu adalah salah satu versi asal usul Kampung Bandan, Ancol, Kecamatan Pademangan, Kota Jakarta Utara (Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta, Dinas Pariwisata dan Permuseuman Pemprov DKI Jakarta, 2004).

Pada 1682, budak-budak di Kampung Bandan memberontak melawan VOC di Marunda, tetap gagal karena kalah kekuatan senjata.

Para budak yang memberontak oleh VOC dikirim ke Srilangka yang juga menjadi daerah kekuasaan Belanda.

Versi kedua, kata Banda berasal dari Banda dalam bahasa Jawa yang berarti diikat (dibanda). Hal ini dihubungkan dengan peristiwa yang sering dilihat oleh warga Jakarta pada zaman pendudukan Jepang.

Foto/Okezone

Saat itu, Jepang sering membawa pemberontak dengan tangan terikat melewati kampong Banda ini untuk dieksekusi di kawasan Ancol.

Cerita ketiga bahwa Banda merupakan pengucapan dari kata pandan. Pasalnya, pada masa lalu kampung Banda ini dipenuhi pohon pandan sehingga warga menyebut Kampung Pandan, yang lama-lama berubah menjadi Bandan.

Masjid Al Mukarromah dan Nisan Khas Pulau Banda

Dari ketiga versi, cerita asal usul Kampung Bandan, versi budak dari Pulau Banda lebih kuat karena meninggalkan bukti nyata.

Masjid Al Mukarromah yang berada di perkampungan Bandan tersimpan batu nisan yang dipercayai mirip dengan batu nisan khas yang ada di Pulau Banda.

Foto/Okezone

Masjid ini dibangun oleh Sayid Abdul Rahman bin Alwi As-Syatiri asal Bogor pada tahun 1789 setelah membaca kitab yang menyebutkan ada makam penyiar Islam dari Yaman dimakamkan dekat wilayah Pelabuhan Sunda Kelapa. Penyiar itu diketahui bernama Mohamad Bim Umar Alkudsi dan Ali Bin Abdurahman Ba'Alwi.

Bangunan Masjid Al Mukarromah sudah mengalami pemugaran dan perluasan di bagian belakang dan samping kanan dilakukan tahun 1956.

Pemugaran dilakukan kembali pada 1972 yang dibiayai oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, sekaligus menetapkan Masjid Al Mukarromah menjadi bangunan cagar budaya.

Foto/Okezone

Pada tahun 1978, Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta melakukan pemugaran yang kedua secara total, komponen bangunan diganti dengan yang baru, namun dengan bentuk yang sama seperti aslinya.

Pada ruang utama terdapat makam dua buah makam yang banyak dikunjungi oleh masyarakat, yaitu makam Sayid Ali Abdul Rachman bin Alwi dan makam Sayid Abdul Rachman bin Alwi as-Syatiri.

Sekeliling makam dibatasi pagar pembatas serta diberi cungkup dan ditutup dengan kain berwarna hijau dan hiasan ayat-ayat suci Al-Quran. Selain makam yang dikeramatkan oleh masyarakat, pada bagian serambi sisi timur terdapat 4 buah makam yang merupakan sahabat Sayid Abdul Rahman bin Alwi As-Syatiri.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini