nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Asal Usul Nama 3 Kawasan Ramai di Jakarta

Senin 10 Juni 2019 07:11 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 09 338 2064816 asal-usul-nama-3-kawasan-ramai-di-jakarta-Q9l8XzlK8h.jpg Monas (Foto: Okezone)

JAKARTA - Jakarta kembali ramai setelah para perantau kembali untuk mengadu nasib setelah berlebaran di kampung halaman masing-masing. Ada beberapa kawasan ramai di Jakarta yang diambil dari sejarah masa lalu.

Beberapa nama tersebut ada yang diambil dari nama gedung bersejarah, kelompok penduduk asli, bahkan istilah unik lain yang dipakai di masa lalu.

Berikut adalah tiga asal usul nama kawasan di Jakarta;

1. Manggarai

Manggarai

Jika Anda sadar, nama ini persis seperti nama kota di Nusa Tenggara Timur. Benar saja, nama daerah di selatan Jakarta ini memang berasal dari nama sekelompok penghuni awal kawasan tersebut. Mereka adalah orang-orang dari Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Manggarai kini merupakan kawasan yang cukup vital di Jakarta. Adanya stasiun dan terminal Manggarai membuat kawasan ini menjadi salah satu sentra transportasi di Ibu Kota.

2. Harmoni

Harmoni

Kira-kira dari mana asal nama Harmoni? Meski namanya sangat Indonesia, kawasan di pusat Kota Jakarta ini berasal dari nama bangunan di zaman kolonial Belanda. Terletak di persimpangan ujung Jalan Majapahit yang tidak jauh dari Istana Negara, nama kawasan Harmoni berasal dari nama gedung “Sosietiet de Harmonie”.

Bangunan tersebut sangat penting di zaman pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-17 dan 18. Gedung ini sering menjadi tempat pesta kaum sosialita Belanda dan Inggris saat menguasai Batavia.

Namun, oleh Pemprov DKI Jakarta periode 1985, gedung tersebut dibongkar dalam ulang tahunnya yang ke 170 tahun. Meskipun gedung bersejarah tersebut sudah tidak difungsikan lagi sebagaimana awalnya, tempat dan kawasan tersebut tetap disebut Harmoni.

3. Grogol

Grogol

Nama ini cukup sulit ditebak, kalau Anda tidak familiar dengan bahasa Sunda. Kawasan yang terletak di barat Jakarta ini dulunya merupakan hutan dengan pepohonan lebat yang dipenuhi binatang buas. Warga yang berburu terpaksa harus memasang perangkap dari tombak, yang dalam bahasa Sunda disebut “garogol”.

Kata “garogol” lama-lama diucapkan masyarakat “grogol” dan semakin familiar sehingga menjadi sebutan wilayah tersebut.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini