WAJAH Afdal Yusra (19) dari Saliguma mengernyitkan alisnya ketika jarum mulai menusuk-nusuk kulit ari bagian dadanya, dia hanya terbaring di atas tikar plastik dan kepalanya ada bantal di bagian kepalanya duduk Reynol Silvester Saogo (30) dan bagian lenganya duduk Joel Frianto Sikatsila (23).
Di tangan kiri Reynol memegang kayu yang melengkung dimana bagian lengkungannya ada jarum kecil yang dipakai menusuk kulit ari Afdal, sementara tangan kanan Reynol memegang kayu kecil yang dipakai sebagai memukul kayu yang ada dibagian kirinya agar jarum yang tercelup di kulit ari Afdal tidak sampai menembus daging. Sementara tugas Joel menyibak kulit Afdal agar garis yang telah dibuat jelas supaya ketika merajah tubuhnya (tato) tidak lari dari garis panduan.
Hampir tiap hari merajah tubuh pencinta tato Mentawai itu yang mengatasnamakan komonitas Sitasimattaoi yang berposko di daerah Pampangan, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatera Barat.
Reynol atau di akun medsosnya B’jak Paburut Kerei ini belajar tato Mentawai secara manual atau otodidak, dialah yang sering menato warga yang mau tubuhnya dirajah atau kalau bahasa Mentawainya Sipatiti’.
Reynol sendiri berasal dari Taupeijat, Sipora Utara, anak kedua dari pasangan Arkelaus Saogo dan Marnida Saleleubaja yang juga aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Mentawai. Dari penuturannya pada Puailiggoubat, dia mencintai tato atau titi’ (bahasa Mentawai) sejak dari kakeknya, sementara kedua orang tuanya sudah tidak ada tato lagi, baru generasi Reynol ada tatonya.
Hampir seluruh bagian tubuhnya dipenuhi tato Mentawai mulai dari dada, punggung, tangan sampai kakinya banyak motif campuran tato Mentawai dari Sarereiket, Tubeket di Siberut Utara dan ada juga motif dari Sipora.
“Awalnya saya membuat tato modern, baru pada tahun 2011 bagian punggung serepak abak (cadik sampan Mentawai) dimana bagian ujungnya dibagian bahu belakang ada enam titik diujung motif cadik. Enam titik itu di bahu belakang itu adalah simbol laipat atau leu’leu’ (sayur paku) untuk kesimbangan hidup. Durasi pembuatannya sekitar tiga jam, sembuhnya tiga hari kemudian kulit terkelupas tidak ada proses ritualnya, yang menato saat itu Aman Durga di Buttui, dia menato memakai alat tradisional,” katanya kepada Puailiggoubat.
Setelah itu kata Reynol, dilanjutkan dibagian dadanya yang dinanamkan gegebak atau sikembang dari Siberut Utara ini melambangkan kalong kelelawar karena dulu ceritanya suku tersebut khusus pemburu, menyerang musuh waktu malam hari.
“Ini ada yang busur panah tapi di Tubeket itu namanya si kembang atau kalong, ini dua hari itu ditato Aman Durga dan Bajak Letcu isinya Durga itu dilakukan tahun 2011,” tuturnya.
Tato berikutnya ada garis melengkung di bagian samping tubuhnya, menurut Reinol itu merupakan aggra bebek. “Tato samping hanya untuk penyeimbang dari tato dada,” jelasnya.
Setelah sembuh dibagian samping, pada tahun 2017 kata Reinol melanjutkan bagian punggung telapak kaki dengan motif saliou.
“Arti keseluruhan adalah leggeu alat penangkap ikan, laki-laki dan perempuan bisa memakai motif tersebut. Lalu bagian belakang betis kaki ada motif laipat (paku), motif ini dari Sipora biasanya perempuan yang memakai tapi karena setiap pengobatan ada laipat makanya sering ditorehkan menjadi tato,” terangnya.
Untuk menato bagian kaki ini awalnya bagi kiti dulu baru kaki kanan. Awalnya memakai mesin tapi kemudian memakai alat tradisional, kalau dibanding mesin modern lebih bagus memakai alat tradisional.
“Setiap kaki dilakukan satu malam. Kemudian dilanjutkan bagian paha itu dilakukan pada tahun 2019, untuk paha ini namanya bou, tiga garis memanjang dengan simbol tonggak uma. Tato paha ini saya sendiri yang buat,” ucapnya.
Tato yang terakhir adalah bagian punggug telapak tangan dengan motif gogokjai (alat penyaring tepung sagu), motif ini dipadukan Simatalu, Siberut Tengah tapi ada juga motif Sarereiket.
“Motif tato keseluruhan ini dipadukan berbagai daerah. Di tangan gagaik ini gogotjai dari derah Simatalu dan Saibi, Siberut Utara bagian dada suku Tubeket, kemudian Sabbangen itu di bahu,” terangnya.
Reynol membuat tato ini belajar tato otodidak, motif tato yang dibuat sempat bertanya sama kakek. “Almarhum kakek dulu ada tato dari Sipora,” ujarnya.
Saat dia mengukir tubuhnya dengan tato orang tua laki-laki memberikan support. Kini Reynol dan pencinta seni tato lainnya mendirikan komonitas Sitasimattaoi di didirkan awal tahun basecamp di Tuapeijat dan Padang.
Untuk peralatan tato bahannya didapat di Buttui, Siberut Selatan berupa kayu kelak baga, ada yang dicari di hutan sendiri. Sedangkan jarumnya memakai jarum tato modern bersama tintanya tapi kalau ada permintaan memakai jarum tradisional bisa dilakukan tapi menurut Reinol itu tidak bisa karena terlalu sakit.
Sedangkan kalau tinta tato tradisional itu memakai jelaga dicampur dengan air tubuh, namun karena bahanya susah dicari jadi memakai tinta modern. Untuk komonitas dalam satu naungan Sitasimanttaoi ada beberapa genre bagian lukisan galery dari kanvas, motif tato mentawai yang jelas mentawai.
“Kami tidak ada ketua semuanya saling memberikan masukan. Sedangkan respon dari pemerintah tidak ada hanya komunal saja,” ucapnya.
Joel Fianto Sikatsila (23) seorang mahasiswa di Stisipol Imam Bonjol Padang juga pencnta tato Mentawai yang ikut merajah tubuhnya, namun tato yang dia ukir di tubuhnhya itu tidak keseluruhan hanya bagian kirinya saja. Tato yang dibuatnya adalah matat sulu (matahari), kemudian punggunya berupa motif serepak (cadik) lalu dikaki.
“Tato saya ini sebelah terinspirasi dari suku Sikatsila (sebelah) dan itu dibuat secara manual memakai alat tradisional. Saya hanya ingin mencoba menyelamatkan budaya meski tidak sempurna,” ucapnya.
Joel terpikat soal tato ini semenjak SD kelas 1 saat itu dia sempat bertemua dengan almarhum nenek. “Pada saat itu kakek saya dan nenek ada tato beda dengan orang tua saya tidak ada tato Mentawai,” ujarnya.
Memang menato belum semahir temannya Reynol, Joel hanya bisa menato hal-hal yang kecil saja sementara motif yang besar belum bisa dilakukan. “Saya baru bisa menato motif serepak dibagian punggung tapi kalau bagian dada dan lainnya saya belum bisa,” ujarnya.
Selama merajah tubuh komonitas ini tidak ada menentukan patokan tarif hanya cukup untuk pengganti beli tinta.
“Disini tidak ada tarif atau patokan, kalau paling kecil itu Rp150 ribu, kalau keseluruhan dari depan khusus dada Rp500 ribu, belakang Rp300 ribu apalagi saat typing bisa jadi sampai Rp2 juta itu hanya pengganti tinta, kalau mengikuti aturan adat tidak bisa dibayar dengan uang harus benda-benda,” ucapnya.
Semenjak ada titi’ di tubuh Joel banyak mengejek dari kawan, lingkungan, sabajak (paman), tapi Joel tidak ciut nyali.
“Kita lihat dulu orangnya, kalau dilihat orang bisa diajak diskusi kita dikusi tapi kalau tidak kita biarkan saja,” pungkasnya.
Memang saat ini generasi muda sebaya Joel dan Reynol sudah tidak lagi memilik tato khas Mentawai, termasuk orang tua mereka, mereka hanya melihat tato generasi kakek dan nenek (teteu). Dalam buku ‘Aku dan Orang Sakuddei’ yang ditulis Reimar Schefold seorang antropolog dari Universitas Leiden Belanda menceritakan perjalananya di pedalaman pulau Siberut sekira tahun 1967 sampai 1969.
“Pejabat utama di pemerintah Muara Siberut bercerita dengan penuh rasa bangga bahwa langkah menuju kemajuan baru dilakukan dengan sebuah ordonansi di tahun-tahun pertama masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Dengan adanya itu maka kepercayaan Mentawai, budaya tato, menajamkan gigi depan, rambut panjang serta perhiasan pada laki-laki dilarang, termasuk juga tinggal di rumah komunal berukuran besar serta hal-hal lainnya yang mengandung budaya tradisional. Itu semuanya dianggap primitif dan terbelakang serta tak patut bagi sebuah bangsa modern,” tulisnya.
Setelah aturan-aturan itu dinyatakan dimana-mana, polisi kemudian memberikan waktu berpikir beberapa minggu lamanya kepada orang-orang Mentawai. “Kemudian mereka memasuki pemukiman-pemukiman tradisional, membakar semua benda-benda religius dan menghukum orang-orang yang tidak mau menyesuaikan diri dan belum memilih agama modern,” katanya dalam bukunya.
Kepala Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Agustinus Sagari membenarkan pemusnahan atribut budaya Mentawai mulai dari alat-alat kerei (tabib), sampai atribut budaya lainnya yang masih mengandung arat sabulungan (kepercayaan).
“Saya memang tidak melihat langsung saat itu tapi saya mendengar cerita dari orang tuaku saat itu saat itu di Siberut Hulu mereka membakar peralatan kerei, karena pemerintah saat itu menilai kebiasaan masyarakat menghambat pembangunan,” tuturnya pada Okezone.com.
Dengan kondisi itu pada saat itu pemerintah (terdiri dari kepala kampung sampai kepolisian) dan tokoh agama saat itu sepakat membakar atribut budaya Mentawai serta memindahkan mereka dari pemukiman lama ke tempat yang dekat dengan pelabuhan dan pantai.
“Akibat anggapan itu menjadi salah satu faktor budaya Mentawai mulai terkikis, saya sendiri tidak pakai tato yang ada tato orang tua bahkan orang tua (generasi kakek) sudah banyak yang meninggal dunia,” tutupnya.
Tato memang identik masyarakat Pulau Siberut, sebab di warga Sipora dan Pulau Pagai Utara dan Selatan menurutnya sejarahnya berasal dari Siberut.
(Khafid Mardiyansyah)