nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Angkutan Lebaran 2019, Ini Hasil Evaluasi Dirjen Hubdat Kemenhub

Jum'at 21 Juni 2019 14:48 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 21 1 2069194 angkutan-lebaran-2019-ini-hasil-evaluasi-dirjen-hubdat-kemenhub-Ifs6LJKJ5z.jpg Dirjen Hubdat Kemenhun, Budi Setiyadi (Foto: Kemenhub)

JAKARTA – Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi hadir sebagai pembicara dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) serta membahas beberapa poin mengenai evaluasi dalam penyelenggaraan arus mudik dan balik selama Angkutan Lebaran (Angleb) 2019. Forum ini diadakan di Gedung Bina Graha, Kantor Staf Presiden pada Rabu 19 Juni 2019.

Dirjen Budi menyebutkan, dibandingkan tahun sebelumnya, penyelenggaraan angleb kali ini memiliki beberapa kelebihan. "Jadwal arus mudik misalnya, ini menarik karena untuk mudik masih ada 7 hari untuk mudik tapi waktu untuk kembalinya hanya 3 hari. Ini menyebabkan adanya anomali saat hari Lebaran pertama dan kedua yang dikira tidak akan banyak perjalanan karena akan silaturahmi ternyata tidak,” ujar Dirjen Budi dalam forum tersebut, sembari menegaskan bahwa memang masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan yang akan dijadikan bahan evaluasi ke depannya.

Selain itu Dirjen Budi mengungkapkan adanya peningkatan jumlah pemudik baik pada angkutan jalan maupun angkutan penyeberangan. Untuk angkutan jalan pada tahun 2018 terdata sebanyak 3.974.709 pemudik dan tahun 2019 sebanyak 4.434.321 pemudik sehingga ada kenaikan sebesar 11,56%. "Sementara pada angkutan penyeberangan tahun 2018 terdata 4.068.968 pemudik dan tahun 2019 sebanyak 4.196.006 atau terjadi kenaikan sebesar 3,12%,” kata Dirjen Budi mengutip data yang diperolehnya dari aplikasi SIASATI per 15 Juni.

Secara umum, dalam sektor Perhubungan Darat, Dirjen Budi menjabarkan tujuh hal yang dilakukan oleh pihaknya selama periode Angleb 2019, yaitu:

1. Kesiapan prasarana jalan dan angkutan umum, manajemen operasional lalu lintas, dan pengendalian kecelakaan lalu lintas, serta pemeriksaan kendaraan bermotor dan pengemudi.

2. Pengaturan pola operasi kapal penyeberangan dengan skenario waktu normal, padat, dan sangat padat untuk meningkatkan frekuensi kapal.

3. Penutupan jembatan timbang untuk dijadikan tempat istirahat bagi pemudik selama periode Angleb 2019 (H-7 sampai H+7).

4. Koordinasi pengendalian pasar tumpah dan rekayasa arus lalu lintas serta pelayanan pengaturan pintu tol.

5. Pengaturan mudik gratis oleh pemerintah dan non pemerintah menggunakan angkutan bus, truk, dan kapal penyeberangan untuk mengurangi penggunaan sepeda motor.

6. Sosialisasi keselamatan kepada seluruh pemudik khususnya pengguna kendaraan sepeda motor via media elektronik, media cetak, leaflet, dan brosur.

7. Pelaksanaan inspeksi angkutan umum termasuk pengemudi pada masa mudik dan balik Angleb 2019 di beberapa terminal.

Selain itu, menurunnya angka kecelakaan lalu lintas selama periode Angleb 2019 merupakan salah satu hal penting yang patut diapresiasi. Dari data kecelakaan yang dirilis Korlantas, jumlah kejadian kecelakaan turun sebesar 65%. Korban meninggal dunia turun 63%, korban luka berat turun 75%, serta korban luka ringan turun 21%.

"Ini juga karena keaktifan kita dari lintas instansi untuk mengampayekan keselamatan berkendara serta target nasional untuk menurunkan angka kecelakaan yang sudah kita lakukan upaya pencegahannya dari beberapa tahun lalu,” tambah Dirjen Budi.

dirjen hunadt 

Secara keseluruhan, dalam pelaksanaan arus mudik ini ada beberapa hal yang dapat menjadi catatan. Pemberlakuan One way pada Jalan Tol Trans Jawa sangat berhasil, secara umum, arus mudik lancar. Namun pada saat arus balik terjadi kepadatan di jalan tol Cikampek – Jakarta dikarenakan untuk arus mudik cenderung lancar karena arus lalu lintas dari Jabodetabek dikeluarkan sampai dengan Gerbang Tol Kalikangkung (Semarang), artinya dari 1 (satu) aliran arus dibuang atau dibagi ke banyak Gerbang Tol sebagai jalur pengalihan.

"Namun sebaliknya, pada saat arus balik, dari berbagai Gerbang Tol sebagai akses masuk menuju satu arah lintasan Tol Cikampek – Jakarta bisa dikatakan Bottle Neck. Oleh karena itu perlu penerapan manajemen pembatasan kecepatan agar tidak terjadi kendaraan yang hadir secara bersamaan,” demikian dijabarkan Dirjen Budi dalam forum tersebut.

Demikian pula untuk angkutan penyeberangan, dengan adanya kebijakan diferensiasi tarif pada waktu siang dan malam dinilai sukses untuk mengubah waktu perjalanan para pemudik sehingga lebih banyak yang menyeberang pada pagi hingga siang hari.

Dalam Forum Merdeka Barat 9 ini hadir juga yaitu Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Wisnu Handoko, Deputi 1 Kantor Staf Presiden Darmawan Prasodjo, dan Kasubbag Dalops Korlantas Polri AKBP Dhafi.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini