SEMARANG – Fenomena puber politik bisa menyasar semua kalangan, termasuk para politikus kawakan. Meski tidak hadir secara langsung di panggung politik, mereka bisa muncul dengan memunculkan kader penerus dari balik layar.
"Saya kira puber politik itu tidak mengenal umur. Walaupun sebenarnya dalam teori percintaan, puber itu umur tengah-tengah, sweet seventeen, under twenty, sekitar itu," ujar pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip), Teguh Yuwono, Kamis (27/6/2019).
"Tapi saya kira berpolitik itu ketertarikan orang untuk turun (ke politik). Maka orang tua pun bisa kena. Orang tua bisa turun meski tidak ke lapangan tapi di balik itu mereka melakukan support, melakukan pendukungan, melakukan dorongan, minimal dukungan dengan berbicara di media," jelas dia.
Teguh pun menganggap wajar tokoh-tokoh senior untuk masuk lagi ke gelanggang politik. Sistem demokrasi yang dianut Indonesia memberi kesempatan yang sama kepada seluruh anak bangsa untuk memberikan pendapat, sekaligus mengaktualisasikan diri untuk dipilih maupun dipilih sesuai aturan.
