"Sebetulnya ini wajar dalam teori demokrasi, everybody can speak, semua orang bisa berbicara. Semua orang bisa mengekspresikan pendapatnya. Ini yang membuat kita lebih dewasa, karena kalau politik itu dinamis. Yang penting satu, dalam berpendapat itu tidak menggunakan kekerasan, tidak menggunakan pemaksaan, apalagi fisik, ini yang berbahaya," tegas Teguh.
Ia melanjutkan, puber politik bisa menyasar semua kalangan, namun dapat kembali mereda sesuai eskalasi perpolitikan. Mayoritas warga akan terkena gejala puber politik ketika memasuki masa pesta demokrasi seiring munculnya tokoh-tokoh calon pemimpin.
"Puber itu mungkin tidak hilang, tapi menurun. Kalau puber itu diterjemahkan ketertarikan terhadap sesuatu, maka puber politik tertarik terhadap politik. Itu (puber) akan menurun pada titik normal, tapi bisa naik lagi. Nah dalam teori politik itu dinamakan dinamika politik. Dinamika itu bisa naik-turun sesuai respons objek politik yang ingin direspons. Misalnya menyangkut pilpres, pilkada, pilgub, atau pilkades," jelas dia. (han)
(Fakhri Rezy)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.