Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tak Hanya Orang Awam, Puber Politik Bahkan Bisa Sasar Politikus Kawakan

Taufik Budi , Jurnalis-Sabtu, 29 Juni 2019 |10:00 WIB
Tak Hanya Orang Awam, Puber Politik Bahkan Bisa Sasar Politikus Kawakan
Aksi massa menyikapi hasil politik dalam negeri. (Foto: Okezone)
A
A
A

SEMARANG – Fenomena puber politik bisa menyasar semua kalangan, termasuk para politikus kawakan. Meski tidak hadir secara langsung di panggung politik, mereka bisa muncul dengan memunculkan kader penerus dari balik layar.

"Saya kira puber politik itu tidak mengenal umur. Walaupun sebenarnya dalam teori percintaan, puber itu umur tengah-tengah, sweet seventeen, under twenty, sekitar itu," ujar pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip), Teguh Yuwono, Kamis (27/6/2019).

"Tapi saya kira berpolitik itu ketertarikan orang untuk turun (ke politik). Maka orang tua pun bisa kena. Orang tua bisa turun meski tidak ke lapangan tapi di balik itu mereka melakukan support, melakukan pendukungan, melakukan dorongan, minimal dukungan dengan berbicara di media," jelas dia.

Teguh pun menganggap wajar tokoh-tokoh senior untuk masuk lagi ke gelanggang politik. Sistem demokrasi yang dianut Indonesia memberi kesempatan yang sama kepada seluruh anak bangsa untuk memberikan pendapat, sekaligus mengaktualisasikan diri untuk dipilih maupun dipilih sesuai aturan.

Lipsus puber politik. (Foto: Okezone)

"Sebetulnya ini wajar dalam teori demokrasi, everybody can speak, semua orang bisa berbicara. Semua orang bisa mengekspresikan pendapatnya. Ini yang membuat kita lebih dewasa, karena kalau politik itu dinamis. Yang penting satu, dalam berpendapat itu tidak menggunakan kekerasan, tidak menggunakan pemaksaan, apalagi fisik, ini yang berbahaya," tegas Teguh.

Ia melanjutkan, puber politik bisa menyasar semua kalangan, namun dapat kembali mereda sesuai eskalasi perpolitikan. Mayoritas warga akan terkena gejala puber politik ketika memasuki masa pesta demokrasi seiring munculnya tokoh-tokoh calon pemimpin.

"Puber itu mungkin tidak hilang, tapi menurun. Kalau puber itu diterjemahkan ketertarikan terhadap sesuatu, maka puber politik tertarik terhadap politik. Itu (puber) akan menurun pada titik normal, tapi bisa naik lagi. Nah dalam teori politik itu dinamakan dinamika politik. Dinamika itu bisa naik-turun sesuai respons objek politik yang ingin direspons. Misalnya menyangkut pilpres, pilkada, pilgub, atau pilkades," jelas dia. (han)

(Fakhri Rezy)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement