JAKARTA – Wakil Sekretaris Jenderal Partai Hanura, Tri Dianto, menilai puber politik bisa berbahaya jika terjadi dalam waktu lama. Pasalnya pada fase tersebut masyarakat akan terlibat pertikaian terus-menerus karena perbedaan pandangan politik.
"Puber kalau untuk manusia ya tidak ada bahayanya. Yang bahaya kan puber kedua dan ketiga. Tapi puber untuk politik bisa bahaya kalau waktunya lama. Bisa ribut terus. Konflik yang enggak jelas," kata Tri Dianto ketika berbincang dengan Okezone, beberapa waktu lalu.
Istilah puber politik mulai populer dalam beberapa tahun belakangan. Fenomena tersebut menunjukkan betapa tingginya ketertarikan seseorang terhadap isu-isu politik. Tak ayal, pembicaraan mengenai politik mudah dijumpai di berbagai grup percakapan WhatsaApp hingga warung kopi.
Ketertarikan masyarakat terhadap isu politik meningkat seiring tingginya partisipasi di pemilihan umum. Namun, tingginya partisipasi dan ketertarikan itu tidak dibarengi penggunaan akal sehat sehingga menimbulkan fanatisme buta.

Berbagai fenomena yang menyesakkan dada turut mewarnai kondisi sosial-politik di Tanah Air. Misalnya saja gara-gara beda pilihan politik tega menyuruh saudaranya memindahkan makam. Ada pula yang tidak tegur sapa lantaran beda pilihan.
Nuansa emosional dan tak mampu menerima perbedaan pilihan acap kali mewarnai kondisi masyarakat kini. Fase tersebut menunjukkan betapa hasrat mampu mengalahkan akal sehat.
Tri Dianto memiliki pemaknaan tersendiri terhadap istilah puber politik. Puber diartikannya sebagai fase yang baru lewat dari masa kanak-kanak. Pada fase ini kedewasaan belum muncul tetapi ingin sok mengerti dan sok hebat. Mereka yang masih puber biasanya belum matang dalam berpikir dan suka tampil.
"Jadi ya banyak ributnya. Kalau debat antara orang-orang yang dewasa kan sehat dan ada mutunya. Kalau sesama puber cuma dapat ramainya saja," terang Tri Dianto.