Setelah mendengar adanya tangkapan, Retno langsung datang ke lokasi penahanan sambil menunggu Polres Limapuluh Kota di samping Kantor Dinas Peternakan Sumbar jalan Rasuna Said Padang. Dia mendengar langsung pengakuan Umar malam itu. Retno Yelvi mendengar, Umar menyebut, disuruh untuk membunuh. Umar mengaku menerima uang Rp100 juta dari rekannya yang saat ini disebut sudah meninggal.
”Logikanya, jika dia menerima uang, uang itu siapa yang kasih. Saat kejadian tidak ada barang yang hilang. Diduga ada aktor di balik semua ini. Saya berharap kepada kepolisian agar membuka kembali kasus ini. Apa motifnya, dan siapa aktor dan dalangnya bisa terungkap,” kata Retno Yelvi.
Sebelum kejadian, keluarganya tidak ada masalah dengan orang lain. Sehingga motif di balik semua ini menjadi membingungkan dan menjadi pertanyaan. “Papa saya punya istri 4 dan hubungan kami baik-baik saja. Begitu juga dengan orang lain. Setahu saya tidak ada masalah. Namun 3 bulan sebelum kejadian ada persoalan terkait pengalihan akta yayasan, ibu saya sebagai bendahara yayasan dan saya sebagai sekretaris tidak setuju. Sehingga akhirnya batal,” ujar Retno.
Menurut Retno, pada saat kejadian, dia bersama keluarganya berdomisili di Jakarta. Sedangkan ibunya tinggal di rumah di kawasan Damar bersama dengan seorang pembantu. Pagi itu dia mendapat kabar, rumah ibunya dirampok. Mengakibatkan ibu kandung bersama dengan pembantunya meninggal dibunuh oleh kawanan perampok.
”Saya langsung terbang ke Padang. Siang harinya dan langsung ke rumah sakit M Djamil Padang. Di sana ibu saya bersama dengan pembantu menjalani visum dan sore harinya dikebumikan,” kata Retno Yelvi.
Retno menceritakan, saat ditemukan, ibunya dalam kondisi mulut tersumpal kain, tangan dan kaki terikat dengan kain gorden, di depan kamar pembantunya. “Sedangkan pembantu saya ditemukan di atas tempat tidur, mulutnya disumpal dengan kain. Wajahnya ditutupi dengan selimut. Pakaiannya acak-acakan. Diduga pelaku juga memperkosanya,” ungkap Retno.
Retno menuturkan, kejadian pertama kali diketahui oleh Kepala TK, Nurmi (40) waktu itu, sekitar pukul 08.00 WIB. TK tepat di depan rumah korban yang bermaksud menghidupkan stop kontak aliran listrik ke sekolah.
”Nurmi kemudian bertemu dengan Anjang penjaga TK, yang juga hendak memasak air di dapur bagian belakang luar rumah. Kemudian mengetuk pintu, namun tak ada sahutan. Nurmi melihat pintu sedikit terbuka, dan mendorongnya, dan masuk. Ditemukan ibu dan pembantu saya sudah meninggal,” ungkap Retno.
Puluhan tahun menjadi tanda tanya bagi keluarga, terkait motif dan yang melatarbelakangi pelaku tega membunuh Djusma. Korban ditemukan meninggal bersama dengan pembantunya Aan di dalam rumahnya, Jalan Damar I no 14, Kecamatan Padang Barat. Tragedi itu terjadi tepatnya pada bulan puasa, Sabtu, 27 Januari 1996.
Pascatragedi berdarah itu, dua orang pelaku telah ditangkap oleh polisi dan dipenjara. Namun tidak memberikan titik terang siapa aktor di balik semua ini. Tertangkapnya Umar Jaya diharapkan membuka tabir gelap itu.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.