KONFLIK sepertinya masih enggan menjauh dari Tanah Papua. Ya, setelah sempat terjadi kerusuhan akibat isu rasisme beberapa waktu lalu, gejolak sosial kembali melanda masyarakat Bumi Cenderawasih.
Sebanyak 33 jiwa melayang pasca-insiden demo anarkis yang berlangsung pada Senin 23 September 2019. Sedangkan ribuan orang mengungsi di Jayawijaya maupun di Jayapura.
Tragedi kemanusiaan di Wamena sontak menyita perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi menyampaikan duka mendalamnya atas terenggutnya 33 nyawa akibat kerusuhan itu. Dirinya menyebut bahwa kerusuhan yang teradi di Wamena bukan karena konflik etnis.
"33 orang telah meninggal di sana tapi yang perlu saya sampaikan bahwa aparat keamanan telah bekerja keras untuk melindungi semua warga jadi jangan ada yang menggeser-geser menjadi seperti sebuah konflik etnis itu bukan," ucap Kepala Negara.
Jokowi bahkan berani memastikan jika kerusuhan di Wamena didalangi oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang sengaja turun gunung dari tempat persembunyian mereka. KKB lanjut Jokowi, nekat melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah warga di Wamena.

"Ini adalah kelompok kriminal bersenjata yang dari atas di gunung turun ke bawah dan melakukan pembakaran-pembakaran rumah warga," lanjutnya.
Sedikitnya 4.656 orang mengungsi imbas dari kerusuhan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Mereka mengungsi ke luar Jayawijaya karena khawatir keselamatannya terancam. Sebanyak 880 orang di antaranya mengungsi di sejumlah posko pengungsian di Jayapura, namun ada yang masih bertahan di Wamena.
"Tercatat di kami di sini bahwa Danlanud sudah mendata total yang turun ada 4.656 orang. Itu yang sudah turun dari berbagai daerah di sekeliling Jayawijaya," ucap Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw kepada wartawan usai menyerahkan bantuan di posko pengungsian Kompleks Batalion Infanteri Raider 751/Vira Jaya Sakti, Sentani, Jayapura, Papua, Selasa 1 Oktober 2019.
Beberapa di antara warga yang mengungsi, kata dia, sudah meninggalkan posko untuk kembali ke rumah saudara atau paguyubannya.
"Jadi yang terdaftar dari enam posko yang ada di sini 751, tadi Lanud (Silas Papare Sentani), Rindam, termasuk di beberapa tempat ibadah masjid, itu terdata ada 880 orang," ujar mantan Kapolda Sumatera Utara ini.

Polisi Tetapkan 5 Tersangka
Polisi akhirnya menetapkan lima orang tersangka yang diduga terlibat dalam tragedi kerusuhan di Wamena, Papua. Namun, kelima pelaku itu bukan merupakan warga asli Wamena.
"Dari hasil pemeriksaan lima tersangka yang sudah ditetapkan oleh Polres Wamena, pelakunya sebagian besar bukan pelaku dari Wamena sendiri tapi juga berbaur dgn pelaku luar Wamena," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di kantornya, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (30/9/2019).
Meski begitu, polisi belum mengungkap identitas dari para tersangka tersebut. Selain itu, tidak dijelaskan pula mengenai peran mereka dalam kerusuhan.
Di sisi lain, Dedi memastikan, pasca-terjadinya kerusuhan, sampai saat ini, kondisi Wamena sudah dalam keadaan kondusif dan aman. Pasalnya, jajaran TNI-Polri menjamin keselamatan dari masyarakat.