JAKARTA - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto menjadi korban penyerangan serta penusukan yang dilakukan oleh sepasang suami istri, FA (21) dan Abu Rara (31). Wiranto diserang usai melakukan kunjungan di daerah Pandeglang.
Mantan Panglima ABRI tersebut diserang sesaat turun dari mobilnya di Alun-Alun Menes, Pandeglang. Saat itu, Wiranto ditusuk dengan senjata tajam jenis belati dan melukai bagian perut sebelah kiri. Namun, penusukan terhadap Wiranto menjadi tanda tanya besar bagi Indonesian Police Watch (IPW).
"Kasus penusukan Wiranto yang disebut dilakukan jaringan teroris ISIS ini jadi pertanyaan besar bagi IPW," kata Presidium IPW, Neta S Pane kepada Okezone, Jumat (11/10/2019).

Menurut Neta, selama ini Wiranto tidak pernah 'bersentuhan' dengan kasus terorisme. Berdasarkan hasil penelusuran IPW, Wiranto bahkan bukan target sesungguhnya jaringan teroris.
"Nama Wiranto hanya satu kali disebut sebagai 'target' dan itu muncul usai pilpres 2019 pasca terjadinya kerusuhan 22 dan 23 Mei," ujarnya.

Neta belum ingin berandai-andai terkait motif yang sesungguhnya terkait penyerangan Wiranto. Namun, kejadian ini bertepatan dengan tidak lolosnya partai yang dibangun Wiranto dan akan berakhirnya kabinet kerja Presiden Jokowi - Jusuf Kalla (JK).
"Apa yang tersirat dari kasus penusukan ini hanyalah bahwa ancaman keamanan masih merupakan momok yang menakutkan di negeri ini dan orang-orang nekat masih bergentayangan dan setiap saat bisa menyerang terhadap siapa saja," ucapnya.