JAKARTA – Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, mengimbau pemerintah lebih intensif dalam melakukan penyelamatan terhadap satu orang nelayan Indonesia yang masih di sandera oleh Abu Sayyaf Group (ASG).
Menurut Fahri, tekanan pemerintah, khususnya dari militer, perlu dilakukan agar penyelamatan tersebut bisa segera dilakukan dengan baik.
Baca juga: Masih Menyandera 1 WNI, Kelompok Abu Sayyaf Terus Diburu
"Tentu upaya penyelamatannya harus makin intensif, terutama melalui tekanan militer," kata Fahri saat berbincang dengan Okezone, Selasa (24/12/2019).
Menurut dia, saat ini kondisi satu orang yang disandera tersebut belum jelas keberadaannya, apakah masih disandera atau sudah melarikan diri. Sebab jika sudah melarikan diri maka pemerintah harus lebih cepat menemukannya.
"Jika masih ditahan, pengurangan tekanan (dari Indonesia) berpotensi makin membahayakan keselamatan si sandera, karena kita harus memperhitungkan kemungkinan pihak ASG membalasnya dengan eksekusi," ungkapnya.
Baca juga: DPR Apresiasi Pemerintah yang Bebaskan 2 Sandera dari Kelompok Abu Sayyaf
Namun demikian, Fahmi juga menyadari bahwa banyak kendala dalam pembebeasan orang yang disandera. Sebut saja karena medan yang kurang diketahui hingga penjagaan yang dilakukan, maka itu kehati-hatian juga penting untuk dilakukan.
"Karena tentunya kita ingin tak ada korban jiwa, baik si sandera maupun dari pasukan yang melakukan operasi pembebasan," tuturnya.
(Hantoro)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.