CIREBON - Kota Cirebon saat ini sudah berusia 650 tahun. Di usianya yang sudah begitu tua, kota ini menyimpan sejumlah bangunan cagar budaya dengan nilai sejarah yang sangat tinggi. Salah satu dari sekian banyak bangunan warisan budaya itu adalah Stasiun Cirebon.
Melansir berbagai sumber, diceritakan ketika pertama kali pabrik pengolahan tebu didirikan di Kota Tegal, Jawa Tengah pada tahun 1813, industri gula berkembang begitu pesat sampai menyebar ke daerah Cirebon. Kala itu, Cirebon sudah menjadi pusat perkebunan gula di pulau Jawa, sebelum sistem politik Tanam Paksa diterapkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830.
Pada akhir abad ke-19, Cirebon diketahui sudah memiliki lebih dari sepuluh pabrik gula. Saat itu meski kereta api belum diperkenalkan, sejumlah jalan rel bertenaga hewan ternak pun dipasang di pelosok-pelosok perkebunan tebu. Hal itu dilakukan untuk memudahkan pengangkutan hasil panen tebu ke pabrik gula.

Baru pada tahun 1911, perusahaan kereta api negara yang saat itu bernama Staatspoorwegen (SS) mengembangkan rel kereta api di Cirebon. Peristiwa bersejarah itu ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Stasiun Cirebon.
Peresmian Stasiun Cirebon
Berdasarkan data dari Unit Architecture & Perservation PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Cirebon diresmikan pada tanggal 3 Juni tahun 1912. Peresmian Stasiun Cirebon juga bersamaan dengan peresmian jalur kereta api Cikampek-Cirebon sepanjang 137 KM.