Keinginan Terakhir Pemuda Korban Pembacokan Geng Motor di Cirebon

Fathnur Rohman, Okezone · Selasa 07 Januari 2020 03:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 06 525 2150011 keinginan-terakhir-pemuda-korban-pembacokan-geng-motor-di-cirebon-a99USNC6pd.JPG Ibunda korban, Jubaedah menceritakan keinginan anaknya sebelum tewas di tangan kawanan geng motor (Foto: Okezone.com/Fathnur Rohman)

CIREBON - Jubaedah (38), tak kuasa menahan air matanya, ketika mengingat kembali keinginan terakhir putranya, Asmail Sevani (15) untuk mengikuti ujian paket B tahun ini.

Asmail yang tidak sempat menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu, terpaksa harus meregang nyawa di rumah sakit, setelah menjadi korban penganiayaan dalam bentrokan antargeng di Jalan Katiasa, Kota Cirebon, Jawa Barat, pada Minggu, 5 Januari 2020 dini hari.

Di mata Jubaedah, Asmail merupakan anak penurut dan penuh pengertian. Ia menceritakan jika anaknya itu sangat bersemangat untuk melanjutkan kembali sekolahnya ke STM. Menurutnya, Asmail memang memiliki keterampilan di bidang otomotif terutama dalam hal memperbaiki sepeda motor.

"Dia enggak lulus SMP. Rencananya tahun sekarang mau ikut paket B, dia maunya di STM. Dia berhenti sekolah karena pergaulan," ujar Jubaedah sembari menahan air matanya, saat ditemui Okezone di rumahnya di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin 6 Januari 2020.

Baca juga: Bentrokan Geng Motor di Cirebon Pecah, Satu Tewas

Jubaedah sendiri tak menyangka kalau nyawa anaknya harus melayang di tangan sekelompok remaja tanggung, yang menamakan diri mereka "Remaja Penggung untuk Santai (RPUS)". Ia mengaku baru menerima kabar jika anaknya terlibat dan menjadi korban bentrokan antargeng, pada Minggu, 5 Januari 2020 sekira pukul 03.30 WIB.

"Baru dapat kabar jam setengah empat dari temannya. Kejadiannya enggak tahu. Tahunya sudah masuk rumah sakit aja. Lukanya di kepala. Dari hasil scan ada pembekuan darah. Asmail meninggal jam setengah enam sore, " kata Jubaedah.

Ia menambahkan, sebenarnya Asmail sempat diingatkan untuk tidak pulang terlalu malam oleh ayahnya yakni Sahroni. Namun, korban justru berkata, kalau dirinya akan pergi menginap ke rumah kakeknya. Jubaedah dan suaminya hanya berpikir kalau selama malam itu anaknya benar-benar menginap di rumah kakeknya. Ia sama sekali tidak mengetahui kalau ternyata Asmail pergi ke tempat lain.

Baca juga: Marak Geng Motor, Kapolda Jabar Instruksikan Personel Patroli di Tempat Sepi

"Kata dianya mau tidur di rumah kakeknya. Kalau di sini sumpek. Enggak kayak biasanya kata saya tuh. Ya, mungkin ini pertanda. Kita pikir dia di rumah kakeknya. Kita enggak tahu dia keluar lagi ke mana. Enggak tahu kalau di belakang orangtua gimana," tuturnya.

Asmail sendiri saat ini sudah dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Jubaedah mengaku pasrah dan menyerahkan semua persoalan ini ke pihak berwajib.

Sementara itu, di tempat yang berbeda, Kapolres Cirebon Kota, AKBP Roland Ronaldy mengatakan, pihaknya berhasil menangkap ketujuh pelaku yang masing-masing berinisial IS, S, DH, MFS, MF, MTR, serta AP, rata-rata mereka masih di bawah umur. MFS dan MF merupakan orang yang membacok korban hingga meregang nyawa.

"Eksekutornya yang berhasil kita amankan inisialnya MFS dan MF, " ungkap Roland.

Roland menambahkan, dari kedua kelompok yang terlibat bentrokan itu beberapa di antaranya tergabung dalam anggota geng motor. Bentrokan itu dipicu oleh aksi saling tantang dari kedua kelompok di media sosial Instagram.

Masih dikatakannya, saat ini pihaknya sudah mengantongi tiga nama kelompok gangster lain yang berpotensi melakukan aksi serupa. Menurut Roland, untuk mencegah permasalahan ini, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, baik itu Pemkot Cirebon, keluarga, dan pihak terkait lainnya.

"Rencananya saya akan bertemu wali kota. Kita akan susun strategi lebih masif, untuk mencegah hal ini tidak terjadi lagi, " tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini