TKI Ilegal di Wuhan: Saya Takut, Harus Minta Tolong kepada Siapa?

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 06 Februari 2020 09:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 06 18 2164115 tki-ilegal-di-wuhan-saya-takut-harus-minta-tolong-kepada-siapa-VbwFgfH95x.jpg Seorang petugas medis berdiri di sebuah bangunan di Wuhan, China. (Foto/People Daily)

BEIJING - Sedikitnya ada buruh migran asal Indonesia atau TKI yang masih terisolasi di Wuhan, China, sejak virus korona mewabah kota itu beberapa pekan terakhir.

Mereka berharap dievakuasi pemerintah seperti ratusan warga negara Indonesia (WNI) di Wuhan yang dipulangkan akhir pekan lalu.

Ketiadaan paspor dan visa kerja itu pula yang mereka duga menyulitkan mereka mengikuti proses evakuasi.

Tiara adalah satu dari dua buruh migran Indonesia yang masih terisolasi di Wuhan. Ia sempat berharap diizinkan masuk rombongan WNI yang dipulangkan dan kini dikarantina di Natuna, Kepulauan Riau.

Baca juga: WHO: Wabah Virus Korona Belum Capai Tingkat Pandemi

Baca juga: Korban Tewas Virus Korona di China Tembus 563

Foto/BBC

Namun harapannya bertepuk sebelah tangan. Ia terpaksa terus bertahan di tempat majikan. Dalam dua pekan terakhir, perempuan asal Subang, Jawa Barat itu tak diperbolehkan keluar rumah.

"Tidak seperti WNI lain, namanya pekerja ilegal, saya takut. Harus minta tolong kepada siapa?" Saya cuma menunggu keajaiban dari Allah," kata Tiara melansir BBC, Kamis (6/4/2020).

Tiara sudah empat tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga di Wuhan. Ia tidak memegang visa kerja. Paspornya pun sudah kedaluwarsa.

"Harapannya ingin pulang, semoga ada keajaiban boleh pulang bareng-bareng," tuturnya.

Tiara berkata, rekan buruh migrannya asal Indonesia di Wuhan memperlihatkan tayangan berita di Youtube tentang ratusan WNI yang sudah dipulangkan.

Foto/Peop Daily

Sejak awal, kata dia, ia pesimis bakal diperhatikan pemerintah karena statusnya sebagai pekerja gelap.

"Itu WNI yang punya paspor dan visa. Tidak ada TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Di China tidak ada TKI yang resmi," ujar Tiara.

Boleh pulang tapi harus dipenjara dulu

Buruh migran Indonesia lain yang terisolasi di Wuhan adalah Asih. Perempuan asal Lampung itu bekerja di Wuhan sejak enam tahun terakhir.

Asih mengaku cemas dengan penyebaran virus korona, walau ia mengikuti saran untuk tidak keluar rumah majikan selama sepuluh hari terakhir.

"Yang namanya manusia, saya waswas. Saya cuma bisa berdoa dan tawakal," kata Asih.

"Majikan saya bilang, 'Kamu enggak usah khawatir, kamu tanggung jawab saya, pokoknya ikuti perkataan saya'."

"Makan seadanya, dengan garam pun saya bisa. Tapi hati tidak enak. Waswas. Majikan bilang nanti saya malah bisa sakit," ujarnya.

Asih mengaku sempat berkorespondensi dengan sejumlah WNI di Wuhan terkait pemulangan ke Indonesia. Ia mendapat informasi bahwa hanya yang berpaspor dan memegang visalah yang dapat dievakuasi.

Kalaupun berkeras ingin mengikuti evakuasi itu, Asih berkata ia perlu ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing dan mengaku kesalahan bekerja tanpa visa ke pihak imigrasi China.

Wuhan dan Beijing berjarak sekitar 1.100 kilometer. Itu setara kurang lebih 11 jam perjalanan darat dan delapan jam penerbangan pesawat.

"Saya diminta bicara terus terang ke KBRI. Sedangkan saya keluar rumah saja tidak bisa, nanti sampai Beijing harus dipenjara setengah bulan, itu sama saja bunuh diri. Akhirnya saya tidak jadi hubungi KBRI," ujarnya.

Asih mengklaim saat ini terdapat setidaknya delapan hingga 12 buruh migran Indonesia di Wuhan. Sebagian dari mereka disebutnya enggan berbicara kepada pers karena khawatir dengan status hukum mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini