Hari Perempuan Internasional, Pandangan bagi Mereka yang Bekerja di Ladang

Ade Putra, Okezone · Senin 09 Maret 2020 09:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 09 340 2180245 hari-perempuan-internasional-pandangan-bagi-mereka-yang-bekerja-di-ladang-7HMDPTyMC5.jpg Ilustrasi perempuan peladang. (Foto: Dok Okezone)

PONTIANAK – Bagi warga pedalaman di Kalimantan Barat, ladang adalah simbol penghidupan. Ini bukan cerita tentang pemenuhan kebutuhan pangan semata, karena lebih dari itu. Ladang dinilai sebagai manifestasi budaya leluhur dan sumber ketahanan pangan bagi masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, berladang tidak hanya dilakoni kalangan pria, tapi juga kaum perempuan. Berdasarkan hasil Survei Pertanian Antarsensus (Sutas) 2018, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kalimantan Barat sebanyak 2.580.585 jiwa yang dibagi menjadi 1.319.864 laki-laki dan 1.260.721 perempuan.

Kondisi yang ada di lapangan, keterlibatan perempuan sebagai peladang tidak kalah penting dibanding laki-laki. Mereka terlibat dalam aktivitas berladang, mulai pembersihan dan penyiapan lahan, pembenihan, penyemaian, perawatan, sampai pada proses pemanenan dan penggilingan padi.

Tidak hanya itu, kaum perempuan juga menjadi manajemen bagi keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan agar bisa tercukupi hingga masa panen mendatang.

Sebaliknya, perempuan tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan pangan. Mereka juga berperan penting dalam mengelola lingkungan, seperti menjaga sumber air dan segala aspek kehidupan yang memengaruhi masyarakat lainnya.

Meski berperan besar membantu suami di Ladang, peran mereka di rumah sebagai ibu untuk memenuhi asupan gizi anak-anaknya juga tidak bisa dielakkan.

Namun kenyataannya, peran itu justru tidak berbanding lurus dengan hak yang mereka terima. Meski telah bekerja keras di ladang dan merawat serta melayani suami di rumah, masih banyak kaum perempuan peladang yang tidak mendapat hak semestinya, baik dalam keluarga sendiri maupun di lingkungan masyarakat sekitar.

Eksistensi perempuan peladang sampai saat ini masih dipandang sebelah mata oleh banyak pihak, padahal peran yang mereka lakukan justru lebih besar dibanding kaum pria. Belum lagi perlindungan sosial yang harus diterima ketika bekerja.

Terkait hal itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak melihat isu perempuan peladang menjadi sangat menarik, terlebih lagi di momen Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret.

"AJI memandang penting hal ini, sekaligus menggugah kesadaran para pemangku kepentingan bahwa perempuan peladang perlu mendapat perhatian serius. Terutama soal hak-hak mereka dan pemenuhan kesejahteraannya," kata Ketua AJI Pontianak Ramses Tobing, Minggu 8 Maret 2020.

Ia menerangkan, perempuan peladang adalah ujung tombak pemenuhan pangan. Mereka juga menjadi simbol keberlangsungan budaya leluhur. Di tangan perempuan peladanglah sumber air dipertaruhkan.

Sayangnya, kata dia, keberadaan perempuan peladang belum ditempatkan pada proporsi sebagaimana mestinya.

"Mereka tidak dianggap. Bahkan di BPS data yang masuk hanya mereka yang laki-laki yang terdata. Jika ada bantuan, penerima manfaat pun hanya kaum laki-laki, sementara kaum perempuan terkesan luput dari hal itu. Padahal kenyataan di lapangan, 70 persen dikerjakan oleh perempuan," tuturnya.

Sebagai wujud kepedulian serta konsentrasi memperjuangkan kesejahteraan perempuan peladang, AJI Pontianak mengajak semua pihak untuk peduli. "AJI akan terus menyuarakan hak perempuan peladang, karena mereka adalah pejuang kehidupan," tutupnya.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini