nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Tenaga Medis Terganggu oleh Berita Viral soal Corona

Fathnur Rohman, Okezone · Rabu 01 April 2020 21:48 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 04 01 525 2192645 cerita-tenaga-medis-terganggu-oleh-berita-viral-soal-corona-6ucfLtmEwA.jpg Ilustrasi (Dok. okezone)

CIREBON - Kinerja petugas medis dalam menangani virus corona (Covid-19) memiliki tantangan besar. Sebut saja alat pelindung diri (APD) yang masih sangat minim, ruang isolasi yang tidak mencukupi, serta beberapa faktor lain yang bisa mengganggu kerja para petugas medis.

Hal di atas nampaknya sempat dirasakan oleh petugas medis di RSD Gunung Jati, Kota Cirebon, Jawa Barat. Selain kekurangan APD, mereka sempat dibuat pusing oleh satu hal.

Ketua Tim Infeksi Emerging RSD Gunung Jati, dr Syifa Imelda menceritakan, kinerja para tenaga medis di RSD Gunung Jati sempat terganggu dengan adanya sebuah video viral di media sosial, yang diunggah oleh akun instagram milik pengacara kondang di Indonesia. Video tersebut berisi tentang keluhan seorang pasien perempuan yang menilai pelayan di RSD Gunung Jati sangat buruk.

Video itu tentunya membuat heboh dan mengejutkan masyarakat Cirebon. Namun, tanpa alasan yang jelas video itu kemudian dihapus dari akun instagram milik pengacara kondang tersebut, setelah beberapa jam diunggah.

Dari penuturan Syifa, banyak berita bermunculan terkait video tersebut. Dampaknya, para tenaga medis yang seharunya fokus melakukan penanganan terhadap pasien, kinerjanya justru terganggu karena harus mengklarifikasi perihal kejadian sebenarnya dalam video itu.

"Kaya kasus waktu kemarin itu, menyita waktu saya. Itu jadi beban pikiran. Belum lagi beritanya diolah lagi. Judulnya diganti lagi. Dikasih bumbu-bumbu itu. Terus terang ini menambah stres karyawan kami. Ini stres pikiran," ungkap Syifa usai jumpa pers di Kantor Dinkes Kota Cirebon, Jawa Barat belum lama ini.

Syifa menuturkan, para tenaga medis di RSD Gunung Jati sudah melakukan berbagai macam cara untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para pasien.

Di tengah keterbatasan APD, para tenaga medis sudah banyak berkorban ketika merawat dan menangani para pasien. Ia berharap agar kejadian-kejadian seperti itu tidak terulang kembali. Sehingga para tenaga medis bisa fokus dalam bekerja.

Selain itu, masyarakat sebetulnya bisa ikut membantu meringankan kerja dari para tenaga medis. Salah satunya adalah dengan tetap berada di dalam rumah dan menerapkan physical distancing sesuai imbaun pemerintah. Hal ini akan mempermudah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

"Satu-satunya cara adalah diputus rantai penularannya. Dengan cara apa?, dengan tidak bepergian. Kalau pergi untuk kebutuhan primer saja," jelasnya.

Lebih lanjut, kata dia, persoalan ruang isolasi juga menjadi salah satu tantangan. Mengingat, ada kemungkinan jumlah pasien mengalami peningkatan, utamanya pasien dalam pengawasan (PDP). Sebab, RSD Gunung Jati menjadi rumah sakit rujukan utama dalam penanganan Covid-19.

Syifa menyampaikan, dirinya bisa menghabiskan waktu untuk merawat dan menangani pasien di ruang isolasi selama 10 jam-12 jam. Bahkan, handphone miliknya harus tetap siaga selama 24 jam, karena banyak orang yang menghubunginya untuk berkonsultasi. Ia mengimbau agar masyarakat tidak menambah beban kerja para tenaga medis dalam menangani Covid-19 ini. Masyarakat harus berada di dalam rumah untuk sementara waktu.

"Kami berusaha menambah kapasitas ruangan isolasi. Apabila penuh, solusinya adalah merujuk ke rumah sakit rujukan lini kedua lainnya. Namun tidak semudah itu," tutur Syifa.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini