2,5 Juta Orang Terinfeksi Virus Corona, Meninggal 177 Ribu

Rachmat Fahzry, Okezone · Rabu 22 April 2020 09:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 22 18 2202945 2-5-juta-orang-terinfeksi-virus-corona-meninggal-177-ribu-aGsCR5ZV0g.jpg Ilustrasi. (Foto/Global Daily)

JAKARTA – Jumlah kasus infeksi virus corona yang menyebabkan penyakit COVID-19, menurut data Universitas Johns Hopkins, Rabu (22/4/2020) sudah mencapai 2.563.384 orang.

Sedangkan jumlah kematian akibat COVID-19 sebanyak 177.200.

Jumlah 50 ribu kematian akibat Covid-19, terjadi dalam 83 hari setelah virus corona di laporkan pertama kali di Kota Wuhan, China, pada Desember 2019.

Delapan hari kemudian, jumlah kematian naik menjadi 100 jiwa, dan delapan hari selanjutnya, kematian akibat virus corona menjadi 150 ribu orang.

Lima negara dengan kasus tertinggi kasus infeksi virus corona, yakni AS (824.147) Spanyol (204.178) Italia (183.957), Prancis (159.299) dan Jerman (148.453).

Kasus kematian tertinggi akibat virus corona juga berada di Amerika Serikat (45.039). Kemudian Italia (24.648), Spanyol (21.282), Prancis (20.829), dan Britania Raya atau Inggris (17.378).

Di Indonesia, data Kemenkes pada Selasa, 21 April, virus corona telah menjangkiti 7.135 orang, 616 meningggal, dan 842 dinyatakan sembuh.

Jauh dari selesai

Dirjen Organisasi Kesehatan Sedunia (World Health Organization/WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Senin, 20 April memperingatkan, pandemi virus corona masih jauh dari selesai, sementara beberapa negara dengan hati-hati mulai melonggarkan pembatasan.

"Percayalah. Yang terburuk masih akan terjadi,” ujar Dirjen WHO.

Ia membandingkan wabah virus corona, yang menulari hampir 2,5 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan lebih dari 167 ribu, dengan flu Spanyol yang mewabah pada tahun 1918 dan menewaskan hingga 100 juta. Tetapi, ia mengatakan, korban yang mengerikan tidak harus terjadi.

Beberapa negara mulai melonggarkan pembatasan pada Senin.

Tedros mengatakan ia "senang" negara-negara berencana melonggarkan pembatasan sosial, tetapi mengingatkan "penting bahwa langkah-langkah itu dilakukan secara bertahap."

Ia juga membela WHO terhadap tuduhan Presiden Donald Trump bahwa badan itu gagal memberikan informasi yang cukup dan transparan tentang Covid-19 ketika pertama kali merebak di China pada Desember lalu.

Trump telah menangguhkan anggaran Amerika bagi WHO. Amerika merupakan donatur tunggal terbesar bagi badan itu.

β€œTidak ada rahasia di WHO karena menjadikan hal-hal ini sebagai rahasia atau tertutup merupakan hal yang berbahaya. Ini isu kesehatan,” tegas Tedros.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini