Para pemudik tersebut dikarantina selama 14 hari. Jika dalam masa karantina mereka menunjukkan gejala Covid-19, maka para pemudik tersebut akan langsung dirujuk ke RS Moewardi dan RS UNS.
Sementara itu, Pemprov Jawa Timur juga menyiapkan sebanyak 7.350 ruang observasi untuk mengisolasi warga yang sudah terlanjur mudik ke wilayah itu meski ada larangan mudik. Jumlah ruang observasi tersebut setara dengan 86,3% dari total jumlah desa dan kelurahan di Jatim.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, menerangkan, penyiapan ruang observasi tersebut sebagai antisipasi jika ada pemudik yang sudah telanjur tiba di kampung halaman. Ruang observasi itu digunakan untuk isolasi mandiri bagi para pemudik yang otomatis berstatus orang dalam pemantauan (ODP).
Menurut Khofifah, dari total ruang observasi yang ada, sudah terpakai 299 ruang untuk mengarantina 1.469 orang. Adapun karantina di tingkat desa dapat mendekatkan ODP dengan keluarga mereka.
Jumlah Pemudik dari Jabodetabek
Berdasarkan hasil kajian dan pendalaman Kementerian Perhubungan (Kemenhub), ditemukan fakta bahwa 68% warga tidak melakukan mudik. Sedangkan 24% lainnya bersikeras akan melakikan mudik. Sementara itu sudah ada 7% warga yang mudik.
Diketahui, populasi warga Jabodetabek yang mudik pada 2019 sebanyak 3.465.458 rumah tangga, dengan total populasi pemudik sebanyak 14.901.468 orang. Angka ini sekitar 44,1% dari total penduduk Jabodetabek tahun 2018 sebanyak 33.759.549 orang. Artinya, masih ada sekira 3-4 juta warga Jabodetabek yang bersikeras melakukan mudik.

Pada 2019, daerah tujuan terbanyak pemudik dari Jabodetabek adalah ke wilayah Jawa Tengah sebanyak 5.615.408 orang atau 37,68 persen, kemudian ke Jawa Barat sebanyak 3.709.049 orang atau sekitar 24,89 persen dan ke Jawa Timur sebanyak 1.660.625 orang 11,14 persen.
Tujuan Jawa Tengah terbanyak adalah ke Kota Surakarta sebanyak 642.789 orang atau sekitar 4,31 persen, Semarang 563.881 orang atau sekitar 3,78 persen, dan Tegal sebanyak 354.110 orang atau sekitar 2,38 persen.