Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jerit Pemijat Tunanetra di Tengah Corona

Muhamad Rizky , Jurnalis-Rabu, 29 April 2020 |20:31 WIB
Jerit Pemijat Tunanetra di Tengah Corona
Srimulyanti, terapis tunanetra kini butuh perhatian pemerintah (Okezone.com/M Rizky)
A
A
A

JAKARTA – Pandemi Covid-19 berdampak serius pada keberlangsungan hidup panti pijat tunanetra. Usaha milik warga disabilitas terancam gulung tikar karena kehilangan pelanggan sejak virus corona mewabah di Indonesia.

Subari (45) hanya bisa pasrah akhir-akhir ini jasa pijat ditawarkannya minim peminat. Orang-orang mulai enggan datang dan lebih memilih mengurung diri di rumah karena takut corona.

Subari membuka panti pijat ‘Seger Waras’ bersama istrinya Srimulyanti yang sama-sama tunanetra di rumah kecil yang dikontraknya di Jalan Cilandak KKO, Gang Jaha Nomor 9A, Kampung Utan, RT 12 RW05, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Baca juga: "Susahnya Cari Rezeki di Tengah Corona" 

Keduanya adalah pemijat profesional, sudah lulus pelatihan dan berijazah. Keterbatasan fisik membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan lain, sehingga menjual jasa pijat untuk bertahan hidup.

 korona

Subari membuka usaha pijat di kontrakannya (Okezone.com/M Rizky)

Meski digempur usaha refleksi dan gerai pijat modern, panti pijat milik Subari-Srimulyanti selama ini tetap bisa mendapatkan pelanggan rata-rata dua hingga tiga per hari. Pendapatannya cukup untuk makan dan membiayai dua anaknya yang kini sudah SMP dan SMA.

Tapi, itu dulu, sebelum corona menyerang. "Kalau sekarang turun mas, biasanya sebulan kan bisa 100 pasien yang urut, sekarang karena virus ini turun sekitar 80 persen lah," kata Subari saat ditemui Okezone di panti pijat tunanetra ‘Seger Waras’, Rabu (29/4/2020).

Baca juga: Curahan Hati Pemijat Tunanetra 

Subari menceritakan dampak corona sangat dirasakannya mulai awal April 2020, di mana pemerintah gencar meminta orang-orang tidak keluar rumah dan jaga jarak fisik untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Pelanggannya pun turun drastis, bahkan sehari bisa tak ada sama sekali. "Bulan ini aja sampa tanggal 29 (April) baru masuk 35, biasanya bisa lebih," tuturnya

Pijat merupakan mata pencarian satu-satunya Subari dan Srimulyanti. Keduanya tak memiliki pekerjaan atau usaha lain. Dia tak tahu harus bekerja apa, jika panti pijatnya harus tutup karena tak ada pelanggan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement