Selain Covid-19, Ini Daftar Pagebluk yang Pernah Melanda Jawa

Agregasi KR Jogja, · Minggu 31 Mei 2020 12:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 31 510 2222360 selain-covid-19-ini-daftar-pagebluk-yang-pernah-melanda-jawa-lDOdhFsZgo.jpg (Foto: Shutterstock)

YOGYAKARTA – Pageblug atau wabah yang terjadi di tengah masyarakat, sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu. Dalam dunia sastra atau kesastraan Jawa, baik tulis maupun lisan, memuat berbagai bentuk wabah serta penanganannya.

Dalam sastra tulis Jawa, misalnya terdapat naskah Sudamala, Calon Arang, Karmawibhangga, Cariyos Dalang Karungrungan dan lain sebagainya. Sedang pada sastra lisan dapat dijumpai dalam dunia pewayangan, seperti ruwatan (Murwa Kala), cerita pageblug Mayangkara.

”Bahkan lebih dari itu, dalam masyarakat Jawa sekarang pun masih hidup budaya untuk menghadapi wabah, seperti melalui kesenian dhongkrek, membuat perlengkapan tertentu, seperti sayur padhamara, barikan dan lainnya,” kata Peneliti Ahli Utama Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Dra Suyami MHum saat berlangsung diskusi daring mengangkat tema ‘Pageblug dalam Kesastraan Jawa’ uang digelar BPNB DIY, belum lama ini.

Baca juga: Kelelahan Lakukan Tes Swab, Tenaga Medis Mobil Lab PCR Minta Libur 

Suyami menyebutkan dalam sastra tulis Jawa ditemukan beberapa manuskrip dan naskah kuno memuat informasi mengenai adanya wabah penyakit yang pernah melanda Jawa, antara lain penyakit gudhig, influensa, tuberkulose dan Kolera. Hal itu sebagaimana yang terungkap dalam naskahnaskah kuno yang ditulis pada awal abad ke-20, yakni naskah tentang Lelara Gudhig (1921).

“Buku tentang lelara influensa ditulis pada tahun 1920, buku tentang lelara tuberkulose ditulis tahun 1921 serta buku tentang lelembut Kolera ditulis tahun 1914 dan 1921,” sambungnya.

Baca juga: Disebut Larang Ojek Online Beroperasi, Kemendagri Beri Penjelasan

Sementara menurut dosen Prodi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya UGM Rudy Wiratama MHum, dalam pandangan orang Jawa pageblug dipahami sebagai sebuah fenomena kosmologis. Hal itu mendorong manusia harus mengembalikan keseimbangan. Keselarasan antara diri pribadi, manusia dengan sesama dan lingkungannya serta manusia dengan Tuhan.

”Pageblug mayangkara sebuah frasa yang memiliki makna musim penyakit menular dengan cepat. Fenomena tersebut seperti kondisi saat ini dengan wabah Covid-19 yang sudah menjadi pandemi karena berjangkit di banyak negara,” katanya.

Sedang Kepala BPNB DIY Dwi Ratna Nurhajarini MHum pada Sabtu (30/5) menuturkan, diskusi membedah naskah kuno menjadi sangat penting. 

(wdi)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini