Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sambut New Normal, Ini Strategi Kementan Terkait Masalah Pangan

Agustina Wulandari , Jurnalis-Jum'at, 05 Juni 2020 |16:22 WIB
Sambut <i>New Normal</i>, Ini Strategi Kementan Terkait Masalah Pangan
Foto : Dok. Okezone
A
A
A

JAKARTA - Pandemi Covid-19 menyebabkan dampak buruk terhadap beberapa sektor penting di Indonesia termasuk pangan, yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Kementerian Pertanian juga terus berupaya melakukan penanganan dengan menyiapkan tiga strategi saat menghadapi New Normal.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menerangkan, strategi pertama yaitu agenda SOS, atau emergency yang ditemukan ketika harga ayam sempat jatuh beberapa waktu lalu.

"Bagi peternak, ayamnya akan dibeli oleh mitra dan di fasilitasi penyimpanan berpendingin oleh pemerintah. Di sini, kami telah berkoordinasi dengan mitra," ucap Syahrul dalam diskusi virtual bertema 'Ketahanan Pangan di Tengah dan Pasca Covid-19', Kamis (4/6/2020).

Kemudian, peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) akan masif dilakukan dengan menaikkan harga jual gabah sehingga target penambahan NTP menjadi 103 poin, lebih tinggi dari beberapa waktu sebelumnya, atau sebesar 102,09 poin.

Mentan Syahrul menegaskan, penurunan tersebut bukan disebabkan oleh hasil produksi petani tidak akurat namun karena dampak Covid-19 yang menyebabkan pelambatan transportasi, distribusi, dan pembatasan berbagai akselerasi kemasyarakatan.

"Karena adanya berbagai pembatasan dalam menghadapi Covid-19 menyebabkan NTP mengalami penurunan, di sini harus ada solusi penyikapan yaitu membangun stok penyangga atau buffer stock untuk 11 komoditas pangan, lalu pengembangan pasar dan toko tani, jaring pengaman sosial bagi petani, menjaga stabilitas harga," tuturnya.

Strategi kedua agenda jangka menengah yaitu memaksimalkan ekspor dengan mengintervensi industri agrikultur agar tidak memecat karyawannya. Juga relaksasi terhadap padat karya melalui pemberian bibit atau benih sehingga produksi komoditi tetap berjalan.

"Wilayah yang mengalami kekeringan dan minus kami support lewat bantuan sarana produksi, secara medical solution masalah Covid dapat diselesaikan dengan cepat namun untuk food security membutuhkan antisipasi paling cepat 2 tahun. Pertanian adalah solusi," tegasnya.

Kemudian, strategi terakhir adalah agenda jangka panjang yaitu meningkatkan produksi pertanian, ekspor tiga kali lipat, penurunan gagal panen sebesar lima persen, mendorong pertumbuhan petani milenial 2,5 Juta orang.

Mentan Syahrul menerangkan, ekstensifikasi pangan di lahan rawa juga terus dikebut sambil mengoptimalkan lahan yang sudah ada atau sekitar 600 ribu hektar untuk 1,5 juta ton beras.

"Infrastruktur juga telah disiapkan guna mendukung strategi tersebut," paparnya.

Sementara itu, apabila kedepannya masih ada kendala Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan Cara Bertindak (CB) diantaranya mengidentifikasi kembali lahan rawa.

"Kita masuk ke Kalteng ada 160 ribu hektar lahan masih terbuka ini menjadi tantangan dan butuh intervensi, oleh sebab itu diperlukan transmigran petani yang siap bertani dalam berbagai kondisi," lanjutnya.

Selanjutnya intervensi bahan pangan lokal yaitu satu provinsi, satu panganan seperti sorgum, jagung, ubi kayu. Untuk itu, Kementan tengah menggelorakan program pekarangan pangan lestari.

"Sekarang sudah ada 3.836 kelompok ini yang sedang kita konsentrasikan, saya sedang mencari penambahan keuangan dengan berkoordinasi bersama Menkeu dan mitra lainnya," ujarnya.

"Lalu cadangan beras dengan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM), kita berharap provinsi, kabupaten, kota, kecamatan memiliki LPM. Sampai sekarang ada 320 LPM yang siap menjadi sandaran saat kekeringan," tutupnya.

CM

(Yaomi Suhayatmi)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement