Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Mantan Pecandu Berat Narkoba Kini Rutin Pimpin Mujahadah

Taufik Budi , Jurnalis-Minggu, 28 Juni 2020 |13:55 WIB
Cerita Mantan Pecandu Berat Narkoba Kini Rutin Pimpin Mujahadah
A
A
A

DEMAK - Perawakannya tidak terlalu besar. Malah bisa dibilang tubuhnya berukuran kecil untuk orang-orang seusianya. Hanya saja tato yang menghiasi hampir sekujur tubuh dan suara parau, membuatnya disegani atau lebih tepatnya ditakuti.

Pria ini sejak delapan bulan lalu menjadi salah satu pasien di Panti Rehabilitasi Sosial (PRS) Maunatul Mubarok, Sayung, Demak, Jawa Tengah. Kini peci warna hitam dan sarung tak pernah dari kesehariannya. Tak lupa, baju muslim lengan panjang selalu dikenakan sekaligus menutupi tato di tubuhnya.

"Ini yang lagi azan Mas Antoni (bukan nama sebenarnya). Suaranya merdu kan? Logat Arabnya juga sudah fasih. Padahal baru hitungan bulan di sini," ujar seorang konselor PRS Maunatul Mubarok, Muhammad Faizun, Minggu (28/6/2020).

Dia menceritakan, saat tiba di panti rebailitasi itu Antoni masih sangat labil. Kondisi yang jauh berbeda antara di rumah dengan panti membuatnya ingin segera pulang ke Tangerang Banten. Antoni kerap uring-uringan karena tak betah.

"Terutama ketika sepekan di sini, Antoni pengennya pulang. Dia menghubungi keluarga untuk dijemput atau nekat pulang sendiri. Alasannya macem-macem mulai dari makanan tak enak hingga lingkungan pesantren seperti ini," terang dia.

"Pas awal-awal itu dia sering mau muntah kalau makan. Ya mungkin kan beda dia di rumah banyak pilihan makanan, sementara di sini makan ya seadanya. Apalagi ada pasien gangguan jiwa juga. Jadi harus bisa nerima lah," lugasnya.

Selama sepekan, pihak panti belum melakukan terapi khusus kepada Antoni. Pemuda berusia sekira 18 tahun itu dibiarkan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kegiatan salat berjamaah maupun mengaji tak diikutinya. Padahal semua pasien lain dengan kesadaran sendiri menenteng kitab ke musala.

"Memang kita biarkan, tapi kita jaga perasaannya juga agar mulai kerasan dengan lingkungan baru. Biar dia mulai tergugah sendiri untuk ikut ke musala. Lama-kelamaan dia ikut, mungkin karena sendirian di kamar. Mulai ikut salat dan mengaji. Dari situlah kita mulai proses terapinya," ungkap dia.

Tak mudah menghilangkan kebiasaan mengonsumsi narkoba. Proses terapi dan zikir bersama menjadi jurus ampuh untuk mulai menghilangkan ketergantungan pada obat-obatan terlarang bagi 70-an pasien yang menjalani terapi.

Pada saat bersamaan, pihak panti memberikan pendalaman materi keagamaan. Pasien diajari membaca Kitab Suci Alquran. Bagi yang belum bisa akan diajarkan mulai mengenal huruf hijaiyah.

"Seperti Antoni ini, dia sejak awal masuk sini enggak bisa baca Alquran sama sekali. Kita mulai ajarkan Alif, Ba, Ta. Tiap pagi habis Subuh kita ajari secara private, karena yang lain rata-rata sudah bisa baca Alquran," lugas dia.

Perubahan sikap Antoni semakin terlihat pada awal tahun ini. Dia tak lagi uring-uringan bila menginginkan sesuatu. Kecanduan dari zat psikotropika juga mengilang. Dan yang membanggakan, dia bukan hanya mendapat giliran mengumandangkan azan, tetapi juga rutin memimpin mujahadah.

"Perubahannya sudah 180 derajat. Suaranya bagus. Kalau memimpin mujahadah juga fasih hampir sama seperti santri-santri pada umumnya, malah lebih santri daripada santrinya," tutur alumnus Ponpes di Mranggen ini sambil terkekeh.

"Jiwa kepedulian kepada pasien lain juga tinggi. Inilah yang membuat orangtuanya kerap menangis bahagia ketika telefon. Kemarin pas awal pandemi Covid-19, dia sempat pulang tapi terus balik sini lagi. Udah kerasan di sini," ungkapnya lagi.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement