Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Oknum LSM dan Wartawan Diduga Peras 11 TK Milik Muhammadiyah

Bramantyo , Jurnalis-Senin, 29 Juni 2020 |00:57 WIB
Oknum LSM dan Wartawan Diduga Peras 11 TK Milik Muhammadiyah
(Foto : Okezone.com/Bram)
A
A
A

KARANGANYAR - Aksi dugaan pemerasan yang dilakukan oknum mengaku berasal dari sebuah LSM dan sebagai wartawan berasal dari sebuah tabloid TS, membuat 80 guru dari 11 TK Aisyiah di Kecamatan Colomadu, Karanganyar resah.

Mereka membeberkan data sebelas Taman Kanak-Kanak Aisyiah itu telah menggelembungkan jumlah murid, dengan tujuan mendapatkan anggaran Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), keduannya pun akhirnya meminta uang sebesar Rp5 juta per TK.

Aksi dugaan pemerasan yang diduga dilakukan oknum LSM berinisial Y dan oknum mengaku seorang wartawan berinisial S dari sebuah tabloid TS ini, pun diduga melibatkan oknum dua Aparatur Sipil Negara (ASN) dari UTPD setempat berinisial EN (50) dan MS (49) oknum ASN dari Ikatan Guru TK Kecamatan Colomadu Karanganyar.

Konspirasi itu mendapatkan perlawanan dari semua guru 11 TK Aisyiyah. Pasalnya data yang dituduhkan itu tidak terbukti.

Meski tak terbukti, para pemeras ini tetap nekat dan menawarkan negosiasi pengelola 11 TK Aisyiyah itu mau membayar pada pelaku. Akhirnya terjadilah negosiasi. Perwakilan guru TK AIsyiyah serta Oknum ASN UPTD dan ASN dari IGTK serta oknum LSM dan oknum wartawan bertemu di sebuah rumah makan didaerah Colomadu.

Karena Aisiyah berada di bawah PD Muhammadiyah, tak pikir panjang PDM langsung menerjunkan tim Lembaga Bantuan Hukum.

Pengurus PDM Suryanto mengatakan hasil investigasi tersebut, Muhammadiyah siap melaporkan semua pelaku kepada kepolisian. "Kita segera lanjutkan kasus ini ke jalur hukum. Tapi sebelumnya akan saya panggil jika mau minta maaf dan tidak membuat resah" ujar Suryanto, Minggu (28/6/2020).

Sementara itu saat dikonfirmasi, kedua ASN itu berkelit bila mereka terlibat dalam dugaan pemerasan yang dilakukan oknum LSM dan oknum mengaku wartawan.

ED, salah satu PNS Pengawas TK dari UPTD Diknas Kecamatan Colomadu berdalih keterlibatan mereka hanya berupaya menengahi agar para guru dan Kasek TK Aisyiyah mau bernegosiasi terhadap angka penawaran Rp5 juta itu.

Baca Juga : Soroti Kinerja Menkes, Jokowi : Anggaran Rp75 Triliun, Baru Keluar 1,53 Persen!

Pasalnya, mereka risih selalu didatangi LSM dan wartawan tersebut. Sehingga dirinya mengambil jalan pintas menyarankan guru dan kasek TK Aisyiyah Colomadu agar menuruti permintaan pelaku Rp5 juta.

"Jujur saja semua pihak resah terhadap ulah pelaku maka daripada sering datang meresahkan saya hadir pada pertemuan di rumah makan itu untuk lakukan win-win solusi agar rampung masalahnya dan pelaku pergi tida lagi mengganggu" ujarnya.

Menurut ED sebenarnya apa yang dituduhkan LSM dan Wartawan tentang tuduhan penggelembungan data siswa agar BOP nya juga naik itu tidak benar dan tidak terbukti. Namun para guru kebanyakan perempuan takut dan resah termasuk dirinya.

"Lah harus bagaimana lagi karena risih dan takut ya akhirnya saya pun menengahi termasuk mencari solusi ketika guru dan kasek harus diminta membayar Rp5 juta" ungkapnya.

Pendapat senada juga disampaikan MS. Dirinya risih dan ketakutan karena LSM dan wartawan itu terus menyerang dirinya meski tuduhan mereka tidak terbukti.

Akhirnya dia bersama ED oknum PNS berusaha menyepakati permintaan pelaku Rp5 juta dan menawarkan pada guru dan kasek yang hadir.

Namun permintaan Rp5 juta itu ditawar lagi oleh para guru menjadi sebesar Rp2 juta saja tapi ditolak oleh pelaku hingga akhirnya deadlock dan bubarlah pertemuan itu tanpa ada pembayaran.

"Benar memang saya dan pengawas TK datang di rumah makan tersebut tapi ya alasannya sama bahwa karena kami bingung harus bagaimana" ujarnya.

Bahkan MS mengaku keberatan dengan angka Rp5 juta itu karena para guru dan kasek TK gajinya tidak seberapa. "Kalau mau jujur saya kasihan dan keberatan dengan pemerasan Rp5 juta" tandasnya.

Menurut MS, kasus ini dilematis disatu sisi tuduhan LSM dan wartawan itu tidak terbukti, namun di sisi lain para guru perempuan itu ketakutan dan risih selalu diserang dengan berbagai tuduhan.

(Angkasa Yudhistira)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement