Curhat Petugas Pemulasaran Jenazah Covid-19, Keluarga Pasien Wajib Nyimak

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 10 Juli 2020 11:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 10 519 2244168 curhat-petugas-pemulasaran-jenazah-covid-19-keluarga-pasien-wajib-nyimak-UmxIoLWsIX.jpg Foto: Istimewa

MALANG – Keluarga dari pasien yang meninggal dunia akibat virus corona (Covid-19), atau wafat berstatus pasien dalam pengawasan (PDP), mungkin wajib menyimak penuturan di bawah ini.

Ya, salah satu personel tim pemulasaran jenazah Covid-19 di Kota Malang Kompol Sutiono.menceritakan bagaimana susahnya menghadapi berbagai reaksi muncul dari pihak keluarga pasien.

Contohnya ada keluarga yang tak terima hingga ngeyel mengajak debat petugas.Hal itu kerap dialami salah satu personel tim pemulasaran jenazah Covid-19 di Kota Malang Kompol Sutiono.

“Kadang–kadang juga berdebat dengan keluarga pasien karena tidak yakin, tapi kita yakinkan terus, virus itu menular, beda dengan bakteri,” curhat Sutiono pada Kamis 9 Juli 2020.

Bahkan lanjut pria yang juga Kasat Intelkam Polresta Malang Kota ini, pernah ada pihak keluarga yang hendak membuka kantong jenazah tapi berhasil dicegah lalu diajak berkomunikasi lebih lanjut.

Baca Juga: Kisah Pasien Sembuh Covid-19: Satu Minggu Tidak Bisa Tidur

Tak jarang pula pihak keluarga menolak anggota keluarganya ditempatkan di peti jenazah, sehingga Sutiono harus mengeluarkan kantong jenazahnya.

“Kalau mereka tidak mau di peti, ya saya siapkan kantong jenazah di mobil saya, di belakang itu lengkap kantong jenazah, semuanya ada. Pokoknya jangan dibuka lagi. Jadi kantong jenazah hanya untuk membawanya saja, jadi kalau di ambulan seperti dikafani keliatan hanya ditutup kain,” terangnya.

Beberapa keluarga pasien bahkan ada yang meminta untuk disemayamkan di rumah atau disalatkan di masjid terdekat. Meski demikian Sutiono mengabulkan permintaan keluarga asalkan jangan sampai membuka kantong jenazah yang telah dikemas sedemikian rupa oleh pihak rumah sakit.

“Ada yang minta mampir disalatkan di masjidnya, ada yang ke rumahnya, jadi kami biasanya hanya mendampingi, terserah yang penting gak ada penolakan. Yang penting saat di rumah jangan dibuka lagi, terus dicium nah itu jangan. Kalau mau dilihat ya kita awasi jangan sampai seperti itu,” tuturnya.

Baca Juga:  Curhat Pasien di RSD Wisma Atlet: Berebutan Makanan hingga Berdesakan di Lift

Dirinya menegaskan meski pasien corona beragama Islam yang pemulasarannya dimasukkan ke dalam peti mati, prosesnya telah sesuai dengan kaidah keislaman.

“Kalau yang di peti habis dimasukkan, sudah ditata menghadap kiblat (jenazahnya). tanahnya diganjeli, habis itu ditutup. Itu pun kalau keluarganya tidak mau kita gak masalah, kita bawa pakai kantong mayat,” paparnya.

Perjuangan Sutiono dan teman–temannya dalam memakamkan jenazah pasien corona tak sampai sana saja, saat memakamkan beragam kendala juga muncul. Padatnya area pemakaman membuat ia dan teman–temannya harus menggotong kantong jenazah masuk cukup dalam ke area pemakaman dengan medan yang curam, dan tak jarang harus naik turun lantaran kontur tanah di Kota Malang yang tak datar.

“Susah tempatnya kita, jangkaunya sulit, makam kita jarang yang datar. Di Betek itu turun ke bawah, mungkin Arjosari yang datar, Sukun juga, yang lainnya perjuangan kayak mendaki gunung saja. Jadi sulit sekali,” jelasnya.

“Hanya Sukun yang agak datar, tapi agak padat, Samaan itu sudah padat jadi kita kadang-kadang kesandung-sandung kalau tengah malam memakamkan,” tambahnya.

Sebab itu Sutiono berharap ada lahan khusus yang disiapkan Pemkot Malang guna memakamkan pasien – pasien corona. Meski sebenarnya tugas tim Satgas Pemakaman Pasien Corona sedikit dimudahkan dengan adanya bantuan dari petugas Dinas Lingkungan Hidup UPT Pengelolaan Pemakaman Umum.

“Kalau ada harusnya begitu (disiapkan lahan pemakaman khusus pasien corona), ini makam kan ada yang pakai peti ada pakai kantong mayat, biar memudahkan,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini